Kamis, 20 Agustus 2020

Fungsi Sanggah Kamulan

Setelah mengerti dan memahami Sanggah Kemulan, bagaimana sejarahnya dan apa saja yang dipuja pada sanggah kemulan pada artikel kali ini kita akan memahami fungsi sanggah kemulan
merajan
Photo: Koleksi pribadi. Merajan di Belitang II OKU TIMUR
  1. Tempat Pemujaan Ida Hyang Widdhi
    Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pengertian Hyang Kamulan, adalah Sanghyang Tri Atma yang panunggalannya adalah Hyang Tuduh atau Hyang Tunggal. Sanghyang Tri Atma yakni : Atma, Sivatma dan Paratma adalah Tuhan, dalam manifestasinya sebagai Roh. Menurut sistim Yoga, Ia adalah identik dengan Tri Purusa (Siva, Sadasiva dan Paramasiva) menurut filsafat Siva Sidhanta dan sesuai pula dengan Brahma, Visnu, Isvara. Ia juga sesuai dengan fungsi Siva sebagai Guru. Oleh karenanya Hyang Kamulan adalah juga Bhatara Guru, yang berdimensi tiga pula, yaitu Guru Purwam (Paramasiva), Guru Madyam (Sadasiva) dan Guru Rupam (Siva). Jadi dengan demikian sesungguhnya yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Ida Hyang Widhi dalam wujud sebagai Sanghyang Tri Atma, Sanghyang Tri Purusa (Bhatara Guru) dan Sanghyang Tri Murti.
  2. Tempat Memuja Leluhur
    Dalam lontar Purwabhumi kamulan dinyatakan bahwa Sanggah Kamulan adalah tempat Ngunggahang Dewapitara,
    ti kramaning anggunggahaken pitra ring kamulan (Rontal Purwabhumi Kamulan, lembar 53).
    Ngunggahang Dewapitara pada kamulan dimaksudkan adalah untuk “melinggihkan” atau mensthanakan” dewa pitara itu.
Yang dimaksud dengan dewa pitara adalah : roh leluhur yang telah suci, yang disucikan melalui proses upacara Pitra Yadnya, baik Sawa Wedana maupun Atma Wedana.
Ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah mengandung maksud mempersatukan dewa pitara (roh leluhur yang sudah suci) kepada sumbernya (Hyang Kamulan). Kalimat “irika mapisan lawan dewa Hyangnia nguni” mengandung pengertian bersatunya atma yang telah suci dengan sumbernya, yakni Sivatma (ibunta) dan Paratma (ayahta). Hal ini merupakan realisasi dari tujuan akhir Agama Hindu yakni mencapai moksa (penyatuan Atma dengan paratma).
Dari segi susila (aspek etika) ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan, adalah bermaksud mengabdikan/melinggihkan roh leluhur yang telah suci pada Sanggah Kamulan untuk selalu akan dipuja, mohon doa restu dan perlindungan.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI
Atma yang dapat diunggahkan pada Sanggah Kamulan adalah Atma yang telah disucikan melalui proses upacara Nyekah atau mamukur seperti dinyatakan dalam rontal :
iti kramaning ngunggahakan pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung muah mamukur, ri tutug rwa wales, dinanya, sawulan pitung dinanya
Artinya: Ini perihalnya menaikkan dewa pitara pada Kamulan, setelah upacara nyekah atau mamukur, pada dua belas harinya, atau 42 harinya
Jadi upacara ngalinggihang Dewapitara adalah merupakan kelanjutan dari upacara nyekah atau mamukur itu. Tetapi karena pitara sudah mencapai tingkatan dewa, sehingga disebut Dewapitara, maka upacara ini tidak tergolong pitra yadnya lagi, melainkan tergolong Dewayadnya. Dari uraian di atas itu, jelaslah bagi kita, bahwa Sanggah Kamulan disamping untuk memuja Hyang Widhi, juga tempat memuja roh suci leluhur yang telah menunggal dengan sumbernya (Hyang Kamulan, atau Hyang Widdhi).
Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

Selasa, 18 Agustus 2020

Tradisi Upacara Neteg Pulu

Neteg = Enteg = Mantap
Memantapkan Pernikahan dan kehidupan Rumah Tangga
Ada yang unik dalam Upacara Nganten Neteg Pulu atau Melepeh. Karena tidak semua masyarakat Bali melaksanakan upacara ini. Tapi bagi kami di Desa Bualu, Nusa Dua upacara ini merupakan hal yang biasa walaupun tidak semua Orang melaksakannya. Sebutan lain untuk Neteg Pulu ada bermacam macam seperti Melepeh. Di Desa Bugbug Karangasem disebut dengan Mesih.

Image by: Kompas Life Style

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Upacara dan Upakara Nganten Neteg Pulu lebih besar dari Ngaten Biasa, begitu juga dengan Pemimpin Upacara yang muput.
Sebenarnya upacara Nganten Neteg Pulu atau Melepeh adalah tahapan dari upacara perkawinan. Karena pada dasarnya
Tata pelaksanaan upacara perkawinan memiliki empat tahapan yaitu:
1. Upacara Mekala kalaan
2. Upacacara Mejaya-Jaya
3. Pewarangan atau Mejauman
4. Melepeh atau Neteg Pulu
Melepeh atau neteg pulu adalah merupakan runtutan upacara perkawinan, namun kenyataan yang berlaku di masyarakat, jarang sekali upacara melepeh ini dilaksanakan pada waktu upacara perkawinan tetapi kebanyakan upacara melepeh atau neteg pulu ini mencari hari tersendiri, kadang-kadang setelah umur lanjut baru dilaksanakan. Sehingga ada ungkapan
” Menikah yang Kedua ” atau
….. I Meme jak I Bapa Nganten atau I Pekak jak I Dadong Nganten …..
Neteg Pulu bisa juga dilakukan secara masal. Tapi sebenarnya Nganten Neteg Pulu bisa dilakukan saat Pasangan Suami Istri baru menikah atau flexibel masalah waktu pelaksanaannya
Semoga pernikahan langgeng.
Artikel diolah dari berbagai sumber.
Artikel lainnya:
  1. Mengenal Tradisi Mekotek
  2. Tradisi Upacara Neteg Pulu
  3. Tradisi Perang Tipat Desa Yeh Apit, Karangasem
  4. Tradisi Lukat Geni Desa Sampalan
  5. Tradisi Megoak-goakan Desa Panji
  6. Tradisi Nikah Massal Desa Pekraman Pengotan Bangli

Sabtu, 15 Agustus 2020

Pura Purohita, Seririt Singaraja.


Pura Purohita terletak di lembah dusun Benyahe, Desa Unggahan Kecamatan Seririt Singaraja, Bali. Upacara Pemelaspasan dilaksanakan 11 Desember 2011 yang lalu dipuput(dipimpin) oleh Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro. Sebelum Upacara Melaspas terlebih dahulu dilaksanakan mendem pedagingan dengan upacara yang sangat sederhana. Diawali nedunang taksu Leluhur Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan. Upakara-nya dilakukan sangat praktis, sehingga hanya mengunakan pejati saja.

Image by: All Event

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Pura Purohita dibangun di area 1,5 hektar dikelilingi bebukitan yang sangat tinggi, berada di wilayah Desa Unggahan Kecamatan Seririt-Singaraja. Dari Kota Seririt bisa ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan menaiki bebukitan dengan kendaraan. Di lingkungan Purohita juga terdapat 11 sumber mata air sakral, yang ke depannya akan dibuatkan kolam Tamba Urip yang akan dibangun oleh Peguyuban Puri Agung Dharma Giri Utama yang nantinya diharapkan berkhasiat menyembuhkan penyakit setelah dipasupati oleh pinisepuh.
Diarea Pura Purohita juga terdapat Lingga Siwa Mahadewa tertinggi di dunia(setinggi 6 meter) yang ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia. Tugu yang menjulang tinggi merupakan lambang laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif serta melambangkan pagi hari. Di bagian lain di Purohita Pura terdapat pelataran Goa Hiranya Garbha (rahim emas) sebagai Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin serta melambangkan malam hari. Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi dari masa prasejarah.
Sejarah Purohita Pura tak lepas dari konsep puri para pura purana purohita, di mana lokasi Purohita ini merupakan salah satu tempat beryoga para pendeta antara lain Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Gana, Mpu Baradah yang disebut Panca Pandita. Rsi Markandya, Mpu Sidimantra, Mpu Angsoka, Mpu Niratha, Ida Dalem Sidakarya, termasuk para leluhur Majapahit. Oleh karena itu, maka dinamakan Purohita Pura yang merupakan tempat tapa brata yoga semadi orang-orang suci zaman dahulu.
Di areal Pura terdapat sumber air yang berasal dari pertemuan delapan sungai dan dijadikan tempat malukat yang membawa tuah masing-masing sesuai dengan delapan arah dalam Astha Kosala-Kosali. Panglukatan ini dikenal dengan nama Astha Gangga.
Tegak piodalan di Pura Purohita dilaksanakan Redite Pon Kulantir, tahun ini odalan akan jatuh pada tanggal 8 April 2018, Dudonan acaranya:
  1. Buda Wage Ukir, 04 Januari 2018 Me Ayu-ayu
  2. Wrespati Kliwon Ukir, 05 Januari 2018 Penyepian
  3. Redite Pon Kulantir, Puncak Piodalan adapun dudonan madya: 06:00 Ngarutang Piodalan, Sembahyang bersama, Pengilen-ilen ngaturang sesolahan, Nyineb dilakukan pukul 24:00
Pakeling Bagi umat sedharma yang akan melakukan persembahyangan dipersilahkan melakukan pengelukatan dipancoran Astha Gangga yang merupakan pertemuan 8 sumber mata air murni.
Diolah dari berbagai sumber.
Terima kasih: InfoDenpasar, PHDI, Majalah Raditya

Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

Jumat, 14 Agustus 2020

BALADA CINTA BEDA KASTA


Ketut adalah anak bungsu dari empat bersaudara, lahir dan besar di salah satu kabupaten di Pulau Sumatera. Orang tua ketut adalah seorang petani padi dan kebun karet. Ingin mengikuti jejak sang kakak yang sudah terlebih dulu merantau ke Bali, Ketut melanjutkan sekolah dibilangan Sudirman Denpasar. Entah bagaimana ceritanya Ketut mengenal Gek Ratih yang saat itu masih duduk di bangku SMA yang kemudian menjalin cinta. Seiring waktu hubungan kedua anak muda ini diketahui orang tua Gek Ratih singkat cerita hubungan ini tidak mendapatkan restu. Menyelesaikan sekolah Ketut pun berniat untuk pulang kampung ke rumah orang tua. Sebagai anak bungsu Ketut diharapkan untuk pulang kampung bersama orang tua. Mendengar Ketut akan pulang Gek Ratih berniat untuk ikut Ketut pulang kampung ke sumatera. Disinilah Drama Cinta itu dimulai Gek Ratih tidak rela untuk ditinggalkan sang pujaan hati si gadis pun nekat mengikuti Ketut pulang kampung. Mengetahui anak gadisnya pergi dengan kekasih orang tua sang gadis membuat laporan ke polisi bahwa anak gadisnya dibawa lari. Drama ini pun berakhir dengan di jebloskannya Ketut ke sel tahanan dengan tuduhan membawa lari anak orang.

Image By: Bombastis

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI

Mungkin drama ini akan beda endingnya jika Ketut dari keluarga kaya raya atau minimal dari kasta yang sama. Seperti yang kita ketahui kasta adalah sistem pengelompokkan masyarakat berdasarkan garis keturunan. Adapun pengelompokkannya terbagi menjadi empat yang disebut dengan “Catur Kasta”, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Kasta brahmana adalah kasta golongan masyarakat yang berkecimpung di bidang kerohanian dan mengajarkan ilmu pengetahuan, kasta ksatria adalah kasta golongan masyarakat yang memiliki keahlian di dalam bidang kepemimpinan untuk mengatur suatu kelompok atau bahkan negara.
Pada jaman dahulu kasta ksatria adalah orang-orang yang bekerja di dalam istana untuk melindungi raja dan keturunannya, kasta waisya adalah kasta golongan masyarakat yang bekerja pada bidang pertanian, perkebunan, berternak maupun berdagang. Keunggulan dari kasta waisya ini adalah mereka bisa menguasai dan mengatur berbagai hal di bidang perekonomian, dan kasta sudra adalah kasta golongan masyarakat biasa dan terkadang bertugas untuk melayani kasta lainnya. Pemahaman “Catur Kasta” ini sangatlah berbeda dengan “Catur Warna”, ketika catur kasta dikaitkan dengan penggolongan masyarakat berdasarkan garis keturunan maka catur warna adalah penggolongan masyarakat berdasarkan tugas atau fungsinya. Saat ini, masyarakat masih mengaburkan pemahaman tentang kedua sistem penggolongan masyarakat tersebut sehingga memunculkan perdebatan.
Dari drama cinta tersebut diatas mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa masih ada(banyak) masyarakat Bali yang berkasta merasa eksklusif, merasa derajat lebih tinggi dari yang lain. Drama cinta diatas bukan tidak mungkin juga disertai dengan sumpah serapah, caci maki bagi Ketut dan keluarganya. Tentu tidak semua keluarga berkasta bersikap seperti diatas. Banyak keluarga berkasta merelakan putrinya untuk dinikahi oleh nak jaba bahkan nak dura negara atau nak dauh tukad atau mungkin karena faktor kaya tadi? entahlah.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber.

Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

Kamis, 13 Agustus 2020

Mengenal Manfaat Sanggah Surya dan Sanggah Tawang


Pada upacara yadnya masyarakat Bali membuat sanggah surya, Sanggah Surya dibuat dengan menggunakan empat batang bambu yang ditancapkan disisi Timur Laut atau arah kaje kangin. Posisi ini mengacu kepada pembagian pekarangan berdasarkan Asta Kosala-kosali. Dimana arah kaje Kangin merupakan pertemuan antara utama dengan utama, sehingga sering disebut arah Dewata. Untuk diketahui bahwa Sanggah Surya hanya memiliki satu ruangan dan dibatasi menggunakan ancak saji. Ukuran Sanggah Surya biasanya lebih tinggi dari pinggang manusia, bahkan ketika dilaksanakannya upacara Yadnya, sanggah ini dibuat lebih tinggi dari dasar bangunan tempat dilaksanakannya upacara Yadnya.

Image By; Kunduk Supatra
Sanggah Surya di beberapa daerah di Bali, juga sering disebut dengan Sanggah Agung. Keduanya bermula dari dua kata, yakni Sanggah yang mengandung arti sumber, sedangkan Agung menekankan kewibawaan Sang Hyang Siwa Raditya yang tak lain adalah Dewa Surya.
Sanggah Surya sangat penting ketika pelaksanaan upacara yadnya, khususnya yang menggunakan banten Bebangkit yang dipuput oleh seorang Sulinggih. Ketika tidak ada Sanggah Surya yang merupakan stana Sang Hyang Siwa Raditya, maka dikatakan suatu upacara yadnya belum lengkap. Hal ini sesuai dengan prabhawa Sang Hyang Surya sebagau Upasaksi.
Selain Sanggah Surya, di Bali juga dikenal dengan adanya Sanggah Tawang. Kata Sanggah berarti sumber, dan Tawang memiliki penekanan arti awing-awang yang dapat diartikan sebagai kesunyian atau sepi. Jadi, Sanggah Tawang dapat diartikan sebagai sumber kesepian, di mana kesepian dan kesunyian tak lain adalah Ida Sang Hyang Widi Wasa.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI
Sanggah Tawang dibuat dari bambu berbentuk segi empat panjang yang memiliki pinggiran yang disebut dengan ancak saji. Sama halnya seperti Sanggah Surya, Sanggah Tawang tidak menggunakan atap, namun terdiri dari tiga ruang atau rong telu yang merupakan simbol Dewa Surya dalam tatanan Tri Sakti , yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Penggunaan Sanggah Tawang ini biasa dijumpai ketika dilaksanakannya upacara dengan tingkatan Utama. Beberapa di antaranya yakni Tawur Agung, Padudusan Agung.
Dengan demikian, Sanggah Tawang mempunyai makna sebagai simbol stananya Sang Hyang Widhi sebagai simbol manifestasinya yang merupakan permohonan umat Hindu dalam suatu upacara agama. Dalam Pustaka Bhuwana disebutkan kosa 1.2.10 ‘Sunyasca Nirbhanadhika, Siwanga Twe Raniksyate, Kutah Tad Wakyama Tulam, Srutwa Dewo Watista, yang artinya ada alam sunia yang dianggap sakti, itulah yang disebut dengan Sang Hyang Siwa.
Dengan melihat sloka tersebut, dapat diartikan bahwa Sanggah Tawang yang menggunakan tiga ruangan sebagai simbol Tri Purusa, yakni Siwa, Sadhasiwa, dan Paramasiwa.
Diolah dari berbagai sumber.
Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

Rabu, 12 Agustus 2020

Perkawinan Adat Bali


Perkawinan sangat berarti bagi kita semua, bagi masyarakat Bali perkawinan memiliki kedudukan yang tinggi. Perkawinan dalam agama Hindu diharapkan menjadi sebuah hubungan yang kekal bagi suami dan istri. Istilah perkawinan dalam sastra dan Kitab Hukum Hindu (Smriti) disebut WIWAHA.

Ilustrasi
Jika dalam perkawinan seorang Perempuan dari kalangan sudra yang menikah dengan laki-laki golongan triwangsa tidak akan pernah masuk kedalam soroh atau clan suaminya, dalam artian perempuan sudra tidak akan berubah kastanya mengikuti kasta suaminya biarpun telah menikah. Pada waktu upacara perkawinannya si perempuan mungkin tidak akan bersanding dengan suaminya melainkan bersanding dengan keris atau dengan banten saja. Sesajen perkawinannya mungkin berbeda dan dipisahkan dengan banten suaminya. Surudan(prasadam) bantennya tidak akan mau dimakan oleh suami dan keluarganya. Dalam tata tertib berbahasa pun istri diharuskan berbahasa bali alus bukan hanya kepada suaminya dan keluarga suaminya saja, tetapi juga kepada anak-anaknya sementara itu anaknya bisa saja berbahasa kasar kepada ibunya. Si istri juga akan dilarang untuk bersembahyang di pura keluarga dan pura kawitannya dan dilarang untuk nyumbah mayat keluarganya dan orang tuanya jika meninggal nanti, dan keluarganya pun harus berbahasa bali alus kepadanya. Sedangkan jika nanti si istri ini meninggal dunia, anak-anaknya dan keluarga suaminya tidak akan dibenarkan untuk memikul mayatnya dalam perjalanan menuju kuburan.

DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI
Lain halnya ketika seorang perempuan triwangsa kawin dengan laki-laki dari golongan sudra. Perempuan tersebut dikatakan nyerod atau tergelincir ke bawah. Perempuan ini juga akan menjalani proses penurunan kasta atau patiwangi sesuai dengan kasta suaminya yang biasanya dilakukan dengan cara mengitari bale agung sebanyak tiga kali. Proses patiwangi ini sebenarnya lebih menyerang sisi psikologis atau aspek kejiwaan dari perempuan triwangsa ini sehingga sebelum seorang perempuan triwangsa akan melakukan perkawinan beda kasta mereka akan berpikir berulang-ulang kali. Setelah melalui proses patiwangi ini si perempuan triwangsa ini akan dikeluarkan dari golongannya dan tidak berhak lagi atas gelar yang sebelumnya disandang dan tidak diizinkan untuk pulang ke geriyanya lagi.
  1. Perkawinan Adat Bali dalam hukum adat (dresta) Bali, dibagi menjadi 2 bentuk yaitu:
    Perkawinan Biasa (Mepandik), Yaitu dalam perkawinan pihak laki-laki berstatus purusa, dan pihak perempuan berstatus pradana. Purusa dalam pengertian ini adalah: sebagai pelanjut keturunan dalam keluarga. Ini merupakan jenis perkawinan yang termasuk perkawinan biasa. Perkawinan ini dilakukan dengan cara meminang atau melamar perempuan tersebut dan disetujui oleh kedua belah pihak keluarga.
  2. Perkawinan Nyeburin atau Nyentana: dalam perkawinan ini pihak perempuan sebagai purusa, sedangkan mempelai laki-laki yang berstatus pradana. Pada awalnya, perkawinan nyeburin dilakukan dalam upaya untuk mencegah putusnya garis keturunan dalam keluarga, tetapi perkembangan selanjutnya adalah untuk tetap mempertahankan anak perempuan tersebut dalam keluarga.
Namun dalam pelaksanaannya ternyata terdapat banyak sekali jenis-jenis perkawinan adat Bali baik yang masih dilakukan sampai yang tidak lagi dilakukan. Berikut ini macam-macam perkawinan adat Bali :
  • Perkawinan Nyerod
  • Perkawinan Mepandik
  • Perkawinan Jejangkepan
  • Perkawinan Nyangkring
  • Perkawinan Ngodalin
  • Perkawinan Tetagon
  • Perkawinan Ngunggahin
  • Perkawinan Melegandang
  • Perkawinan Padagelahang
Perkawinan adat bali selalu dilakukan dengan upacara pengagungan kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta, agar diberkati kesalamatan dan kerahayuan selama mengarungi bahtera rumah tangga. Tahapan perkawinan dilakukan di rumah mempelai pria dan dalam pelaksanaan upacara perkawinan semua biaya yang dikeluarkan untuk acara tersebut menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki–laki.
Terima kasih: Gazes Bali
Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar

Selasa, 11 Agustus 2020

Mesegeh Saat Kajeng Kliwon, Mengapa?


Selain Purnama dan Tilem, Kajeng Kliwon merupakan hari yang spesial bagi umat Hindu. Kajeng Kliwon merupakan hari pertemuan tri wara “kajeng” dengan Pancawara “kliwon”. Datangnya setiap 15 hari sekali. Kajeng Kliwon adalah hari payogan Sang Hyang Durga Dewi / Bhatari Durga diiringi oleh para bala – bala, rencang – rencang beliau yakni “sarwa buta kala”. Inilah yang sebabnya mengapa pada Kajeng Kliwon aura magisnya sangat kental. Beliau Hyang Durga Dewi sebagai sumber dari segala kesaktian dan kekuatan magis.

Image: Koleksi pribadi
DAPATKAN CARA MENGHASILKAN PASSIVE INCOME KLIK DISINI


Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” (umat sedharma) melaksanakan prakerti menghaturkan canang wangi – wangian, pengayatan ditujukan kehadapan Hyang Durga Dewi. Sedangkan di natar sanggah, natar pekarangan dan di lebuh, dihaturkan “segehan” tetabuhan arak berem, ditujukan kepada Sang Tiga Bhucari (Bhuta Bucari, Kala Bucari, Durga Bucari), Sang Adi Kala / Sang Bhuta Raja, dan para bala-balanya yang merupakan para pengiring Hyang Durga Dewi.
Pada hari Kajeng Kliwon, “sang gama tirtha” ngastawa serta menghaturkan sembah bakti kehadapan Hyang Durga Dewi memohon kerahayuan.
Apabila tak pernah menghaturkan segehan, maka Sang Tiga Bhucari akan meminta ijin kepada Hyang Durga Dewi untuk “ngrebeda” mengganggu para penghuni rumah. Mereka menciptakan “gering” (penyakit), mengundang desti, teluh, menyuruh kekuatan hitam dan mahluk gaib seperti tonye, memedi, dll memasuki pekarangan rumah. Sang Bhuta Tiga juga akan menggelar pemunah / pengalah yang menyebabkan situasi rumah menjadi “cemer” tidak suci, muram, tidak nyaman, yang menyebabkan para Betara dan Leluhur tak berkenan lagi “mehyang” di pekarangan itu, lalu kembali ke kayangan. Rumah dan pekarangan menjadi tak terberkati, suwung mangmung. Penghuni rumah menjadi tak nyaman, pikiran kalut, sering sakit, sering mengalami hal aneh, mudah marah, sering salah lihat, sering salah dengar yang menyebabkan salah sangka, salah paham, yang kemudian menjadi sumber dari perselisihan dan pertengkaran. dll.
Demikian juga sebaliknya, apabila sang gama tirtha menjalankan prakerti kajeng kliwon sebagaimana mestinya serta dilandasi rasa bakti dan lascarya, astungkara akan mendapatkan anugrah kerahayuan dari Hyang Durga Dewi, serta selalu akan mendapatkan kawalan perlindungan dari Sang Tiga Bucari dll. Demikiaan tersurat di dalam Cakepan Pakem Gama Tirtha.
Dari berbagai sumber.
Visit Our Sponsor
- Service Laptop / Smartphone Panggilan Denpasar