Rabu, 17 Februari 2021

Sejarah Desa Ketewel - Sukawati

 




Tersebutlah seorang keturunan Pasek Prawangsa dari Lembah Tulis Majapahit, datang ke Bali, beliau menjadi pamongmong Widhi di Pasar Agung Besakih. Beliau sangat bijaksana dan mendalami filsafat ketuhanan (Widhi Tatwa), beliau bernama Mangku Sang Kulputih. Mangku Sang Kulputih mempunyai dua orang putera yang bernama I Wayan Pasek dan I Made Pasek. Kedua bersaudara itu sudah beristri dan masing - masing mempunyai keturunan. Mereka berdua sama-sama bijaksana dalam ilmu pengetahuan Ketuhanan.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Beberapa lamanya Mangku Sang Kulputih menjadi pamongmong di Pasar Agung Besakih, tentramlah pulau Bali ini, dan akhirnya beliau berpulang ke Sorga (meninggal dengan jalan moksah).

Sepeninggal Mangku Sang Kulputih, maka putera beliau I Made Pasek meninggalkan Pasar Agung Besakih bersama-sama dengan istri dan putra beliau mengembara keluar masuk hutan. Di dalam perjalanannya diam-diam beliau dibuntuti oleh seekor burung perkutut putih. Pada suatu ketika di tengah perjalanan I Made Pasek merasa lelah, maka mendekatlah burung perkutut putih itu serta memberikan tiga butir biji kuning untuk di makan sekedar menambah tenaga. Dengan dimakannya pemberian burung perkutut itu maka I Made Pasek kembali segar bugar serta melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalan I Made Pasek dengan setia memuja serta memohon anugrah Ida Hyang Widhi agar mereka selamat dalam perjalanan.

Beberapa tahun lamanya I Made Pasek mengembara di hutan-hutan akhirnya sampailah beliau di alas Jerem (hutan jerem). Karena kelelahan akhirnya beliau tertidur di tepi alas jerem tersebut. Tidak beberapa lama beliau merasa seolah-olah mimpi hingga beliau terkejut dan terbangun. Tatkala itu terdengarlah suara gaib dari angkasa, yang isinya :

"Hai engkau manusia keturunan Pasek Prawangsa, Aku adalah Hyang Pasupati datang memberitahukan kepadamu, hentikanlah perjalananmu, aku memberikan tugas suci kepadamu untuk menjadi Tukang sapu, pamongmong di Kahyangan-Ku yaitu di Pura Jogan Agung di hutan Jirem ini dan Aku memberikan panugrahan kepadamu yaitu menjadi wangsa Dukuh Murti, selanjutnya mulai saat ini engkau tidak boleh lagi mengingat Wangsa Pasekmu sebagai asal kawitanmu" Demikianlah sabda dari Hyang Pasupati.



Setelah beberapa kurun waktu Dukuh Murti menjadi pamongmong di Pura Payogan Agung di hutan Jerem, beliau sangat setia terhadap tugas dan taat melakukan tapa brata, serta mengadikan diri sepenuhnya terhadap Hyang widhi.

BACA JUGA
Misteri Kutukan Ratu Gede Mecaling di Batuan
Asta Kosala dan Asta Bumi Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali
Asta Kosala dan Asta Bumi Arsitektur Bangunan Suci Sanggah dan Pura di BaliPutra Dukuh Murti yang diberi nama Dukuh Centing Tinggal di alas Mercika (Mercika Wana) yang sehari-harinya melaksanakan Yoga Semadi dan melakukan Brahmacari (tidak kawin).

Diceritakan sekarang pada hari baik yaitu Soma Wage Dukut purnamaning Kasa, sampailah waktunya beliau terpanggil pulang ke alam baka (meninggal dunia) dengan jalan moksa tanpa meninggalkan jasad. Beliau meninggalkan setetes darah untuk meyakinkan putranya Dukuh Centing bahwa beliau beserta istrinya telah meninggal.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Bertepatan dengan meninggalnya Dukuh Murti, Dukuh Centing selalu dihinggapi perasaan gelisah dengan adanya firasat-firasat buruk sehingga beliau memutuskan untuk kembali ke alas Jerem menemui orang tuanya. Sesampainya beliau di alas Jerem, keadaan sunyi senyap baik di kahyangan Payogan Agung maupun di pondoknya. Tiba-tiba tercium bau wangi dari angkasa serta ditemukan setetes darah. Dalam keprihatinnannya yakinlah Dukuh Centing bahwa darah itu adalah darah orang tuanya yang membuktikan bahwa orang tuanya telah meninggal. Oleh karena itu diambilnyalah darah itu dan diupacarai sebagaimana mestinya. Setelah diupacarai abunya lalu ditanam di pekarangan pondok beliau. Kemudian Dukuh Centing kembali ke Mercika Wana untuk melanjutkan Yoga semadinya.

Tidak beberapa lama Dukuh Centing melakukan yoga semadi, kembalilah beliau pulang ke alas jerem untuk menghadap ke kahyangan Payogan Agung. Tiba-tiba beliau dikagetkan dengan adanya dua batang pohon nangka yang sudah besar sekali, padahal beliau meninggalkan alas jerem dalam waktu tidak beberapa lama.

Dalam kebingungannya yang dihantui oleh rasa takut tiba-tiba terdengar suara gaib dari angkasa, sebagai berikut:

"Hai kamu Dukuh Centing janganlah engkau pergi dan takut,ini ada tumbuh dua batang pohon nangka yang membuktikan bahwa orang tuamu Dukuh Murti telah mejelma kembali kedunia ini. Pada saatnya nanti apabila pohon ini telah sama-sama dewasa, maka dari kedua pohon ini akan lahirlah 2 orang laki dan perempuan, yang laki diberi nama Gede Mawa dan yang perempuan bernama Ni Mawit Sari, yang selanjutnya Gede Mawa bergelar I Gede Ketewel, karena beliau lahir dari pohon nangka. Nantinya atas restuku, Aku perkenankan kepada seluruh keturunannya menggunakan Wangsa Ketewel dimanapun dia berada di pulau Bali ini, dan alas Jerem Aku jadikan sebuah desa yang bernama Desa Ketewel"

Sumber : cakepane.blogspot.com

Selasa, 16 Februari 2021

Wujud Toleransi, Perang Topat Hindu-Muslim di Pura Lingsar

 






LINGSAR : Suasana Pura Lingsar di wilayah Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pamangku Pura Lingsar, Jero Mangku Gede Rai. (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)


Share this




LOMBOK, BALI EXPRESS-Kerukunan umat beragama sangatlah perlu dirawat dan dijaga di Nusantara, karena sudah ada sejak dahulu.


Bahkan sampai saat ini, baik simbol, tradisi maupun budayanya masih ada, dan masing-masing daerah memiliki cara tertentu untuk menjaganya, seperti yang ada di Pura Lingsar di Nusa Tenggara Barat.


Cara Simple mendapatkan penghasilan harian dari trading forex klik disini



Pura Lingsar yang terletak di Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, merupakan peninggalan Raja Karangasem Anak Agung Gede Ngurah pada tahun 1714 silam, jadi cerminan kerukunan antarumat beragama, khususnya di Lombok Barat. Kerukunan tersebut terjalin antara umat Hindu serta umat Islam Sasak Wetu Telu.


Pemangku Pura Lingsar, Jero Mangku Gede Rai yang ditemui pekan kemarin, mengatakan, yang biasanya datang ke Pura Lingsar adalah umat Hindu serta umat Islam Wetu Telu.

“Yang tangkil biasanya kesini adalah umat Hindu dari Bali yang melakukan tirta yatra. Tetapi disini juga ada suku Sasak yang beragama Islam namanya Islam Wetu Telu juga ikut bersembahyang,” jelasnya.

Dijelaskan Jero Mangku Gede Rai, panyungsung Pura Lingsar ini berasal dari tujuh banjar setempat, yakni Banjar Tragtag, Lingsar, Karang Baru, Ponikan, Pemangkalan, Motang, dan Karang Bayan. Dari ketujuh banjar ini pun ada yang dari Suku Sasak Islam Wetu Telu.

Dikatakan Jero Mangku Gede Rai, bahwa Islam Wetu Telu ini merupakan praktik unik sebagian masyarakat Suku Sasak. Khususnya yang mendiami Pulau Lombok dalam menjalankan Agama Islam yang hanya menjalankan tiga rukun Islam. Yaitu membaca dua kalimat syahadat, salat, dan puasa.

Cara Simple mendapatkan penghasilan harian dari trading forex klik disini 

“Mereka biasanya datang ke Pura Lingsar untuk bersembahyang. Cara persembahyangan mereka juga hampir sama dengan umat Hindu, hanya posisi tangannya tidak di atas, melainkan di posisi dada saja,” terangnya.

Dipaparkannya, Pura Lingsar terbangun atas konsep Tri Mandala, yakni Utama Mandala, Madya Mandala, serta Nista Mandala. Biasanya, Suku Sasak Islam Wetu Telu melakukan persembahyangan di Madya Mandala. Dimana di Madya Mandala Pura Lingsar ini terdapat palinggih.

“Disini biasanya mereka berbaur dengan umat Hindu juga. Biasanya kalau Islam Wetu Telu bersembahyang di sebelah kiri dan umat Hindu di sebelah kanan,” jelas Jero Mangku Gede Rai.

Sedangkan di Utama Mandala terdapat tiga palinggih, yaitu palinggih yang utama adalah Palinggih Bhatara Alit Sakti menjadi tempat untuk ngayeng (memuja) Ida Bhatara Alit Sakti yang berstana di Bukit Karangasem Bali.

“Saat pujawali atau piodalan Purnama Sasih kaenem, biasanya juga bersamaan dengan pujawali di Madya Mandala, Islam Wetu Telu juga melaksanakan pujawali,” ungkapnya.

Dijelaskannya, di Pura Lingsar ini terdapat enam orang pamangku, yang setiap harinya sebanyak tiga orang pamangku bertugas di pura. 

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Jero Mangku Gede Rai mengatakan, ada tradisi yang unik yang dilakukan di pura ini, yakni Perang Topat. Perang Topat adalah sebuah acara adat yang diadakan di Pura Lingsar yang merupakan simbol perdamaian antarumat Muslim dan Hindu di Lombok.

Acara ini dilakukan sore hari, setiap Bulan Purnama Ketujuh dalam penanggalan Suku Sasak. Sore hari yang merupakan puncak acara, dilakukan setelah Salat Ashar atau dalam Bahasa Sasak atau Rarak Kembang Waru yang berarti gugur bunga waru.Tanda itu dipakai oleh orang tua dahulu untuk mengetahui waktu Salat Ashar. 



Ribuan umat Hindu dan Muslim memenuhi Pura Lingsar. Dua umat beda kepercayaan ini menggelar prosesi upacara pujawali, sebagai ungkapan atas puji syukur limpahan berkah dari Sang Pencipta. Sedangkan perang yang dimaksud dilakukan dengan saling melempar ketupat di antara masyarakat Muslim dengan masyarakat Hindu.

“Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan. Karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panennya bisa maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan sampai saat ini,” tandasnya.

Tertarik berkunjung? Mencari Pura Lingsar tidaklah sulit. Sebab lokasinya masih dekat dengan Kota Mataram. Jika berangkat dari Kota Mataram, cukup menuju arah timur mencari Jalan Gora 2. Hanya menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Mataram, maka akan sampai di Pura Lingsar. Tepatnya di depan SMA Negeri 1 Lingsar, dan terdapat pula papan nama Pura Lingsar.

(bx/ade/rin/JPR)

https://baliexpress.jawapos.com/read/2020/12/16/230540/wujud-toleransi-perang-topat-hindu-muslim-di-pura-lingsar

Senin, 15 Februari 2021

Makna Nama - Nama Orang Bali

 




Nama orang Bali ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Bali dan hingga saat ini sebagian besar orang Bali masih menggunakannya.
Mungkin Anda yang bukan orang Bali bertanya-tanya; mengapa nama depan orang Bali ada kemiripan satu sama lainya.

Orang Bali umumnya memiliki nama depan seperti I Putu, I Wayan, I Gede, I Made, I Nyoman, I Ketut, dst. Ada juga yang memiliki nama depan seperti: Ida Bagus, Cokorda, I Gusti, Anak Agung, dst. Lalu apa sebenarnya makna dari nama depan tersebut?

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Nama Orang Bali pada umumnya relatif panjang. Sebagai contoh I Dewa Agung Made Mahendra. Cukup panjang bukan? Itu padahal nama intinya hanya satu kata yaitu “Mahendra”, bisa jadi lebih panjang lagi jika nama intinya lebih dari satu kata.


Lalu apa maksud dari “I Dewa Agung Made” pada nama saya?

Nama orang Bali umumnya diawali dengan sebutan yang mencirikan kasta (wangsa) dan urutan kelahiran. Sebelum saya melanjutkan, disini saya tidak ingin membahas masalah kasta yang sering menjadi pro dan kontra di masyarakat khususnya di Bali.

Jadi, nama orang Bali menjadi panjang karena di depannya ada embel-embel kasta atau nama keluarga (semacam marga) dan urutan kelahiran. Seperti saya, “I Dewa Agung” adalah mencirikan saya berasal dari kasta Ksatria. Selain itu ada juga I Gusti, I Gusti Ngurah, Anak Agung, Cokorda, I Dewa, Ida Bagus, Ida Ayu dan lainnya. Selain embel-embel kasta, ada juga kata "Made". Ini adalah ciri bahwa saya anak kedua. Jadi pada umumnya orang Bali bisa diketahui dia anak ke berapa dari nama depannya.

Menurut "sastra kanda pat sari", Nama-nama depan khas Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat, adalah sebagai berikut:

Anak pertama biasanya diberi awalan “Wayan” diambil dari kata wayahan yang artinya tertua / lebih tua, yang paling matang. Selain Wayan, nama depan untuk anak pertama juga kerap kali digunakan Putu atau Gede. Dua nama ini biasanya digunakan oleh orang Bali di belahan utara dan barat, sedangkan di Bali Timur dan Selatan cenderung memilih nama Wayan. kata “Putu” artinya cucu. Sedangkan “Gede” artinya besar / lebih besar. Dan untuk anak perempuan kadang diberi tambahan kata “Luh” Contoh : I wayan budi mahendra, Ni Putu Erni Andiani, I Gede Suardika, Ni Luh Putu Santhi dll
"Made" diambil dari kata madya (tengah) sehingga digunakan sebagai nama depan anak kedua. Di beberapa daerah di Bali, anak kedua juga kerap diberi nama depan "Nengah" yang juga diambil dari kata tengah. Ada juga yang menggunakan kata “Kadek” merupakan serapan dari “adi” yang kemudian menjadi “adek” yang bermakna utama, atau adik. Contoh: I Kadek Mardika, Ni Made Suasti, Nengah Sukarmi dll
Anak ketiga biasanya diberikan nama depan "Nyoman" atau "Komang" yang konon diambil dari kata nyeman (lebih tawar) yang mengambil perbandingan kepada lapisan kulit pohon pisang, di mana ada bagian yang selapis sebelum kulit terluar yang rasanya cukup tawar. Nyoman ini konon berasal dari serapan “anom + an” yang bermakna muda. Kemudian dalam perkembangan menjadi komang yang secara etimologis berasal dari kata uman yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup kami, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setalah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak. Contoh: I Nyoman Indrayudha, Ni Komang Ariyuni dll
Anak keempat : diawali dengan sebutan “Ketut”, yang merupakan serapan “ke + tuut” – ngetut yang bermakna mengikuti mengikuti atau mengekor. Ada juga yang mengkaitkan dengan kata kuno Kitut yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak bonus yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bertitel Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini. Contoh: I Ketut Nugraha, Ni Ketut Sudiasih dllOrang Bali memiliki sebuah tabu bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, di Bali disebut bikul, di sawah, karena hal ini bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam.



Bila keluarga berancana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak? Di sini ada 2 alternatif yang bisa dipakai orang tua untuk memberi nama depan pada anak kelima, keenam, dan seterusnya:

Nama depan untuk anak kelima dan seterusnya mengulang kembali nama-nama depan sebelumnya sesuai urutannya.
Ada orang tua yang sengaja menambahkan kata "Balik" setelah nama depan anaknya untuk memberi tanda bahwa anak tersebut lahir setelah anak yang keempat. Contohnya: I Wayan Balik Suandra. Jadi nama depannya adalah "I Wayan Balik" yang menandakan bahwa dia adalah anak kelima, atau anak yang lahir setelah putaran 1 sampai 4.Selama ini, kalau seseorang sudah menggunakan nama depan Made, Komang atau Ketut, bisa dipastikan sebagai orang Jaba-kecuali untuk kelompok Brahmana di desa Buda Keling, Karangasem yang masih mempertahankan tradisi pemakaian nama Ida Wayan, Ida Made dan seterusnya.

BACA JUGA
Misteri Kutukan Ratu Gede Mecaling di Batuan
Asta Kosala dan Asta Bumi Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali
Asta Kosala dan Asta Bumi Arsitektur Bangunan Suci Sanggah dan Pura di BaliTidak jelas benar, kapan tradisi pemberian nama depan ini mulai muncul di Bali. Yang pasti, menurut pakar linguistik dari Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U. nama depan itu ditemukan muncul pada abad ke-14 yang dipakai oleh raja Gelgel saat itu bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang kemudian dilanjutkan putranya, Dalem Ketut Ngulesir. Dalem Ketut Kresna Kepakisan merupakan putra keempat dari Sri Kresna Kepakisan yang dinobatkan mahapatih Majapahit, Gajah Mada, sebagai penguasa perpanjangan tangan Majapahit di Bali.

Namun, Jendra belum berani memastikan apakah hal itu berarti tradisi pemberian nama depan itu sebagai pengaruh Majapahit atau bukan. Yang jelas, hal ini terpelihara sebagai tradisi yang cukup lama. Masyarakat Bali hingga akhir abad XX masih tunduk menggunakannya hingga akhirnya menjadi semacam ciri khas untuk membedakan orang Bali dengan orang luar Bali, sebelum akhirnya secara perlahan mulai bergeser, tidak lagi ditaati secara ketat oleh orang Bali. Pengingkaran ini sejatinya telah dimulai ketika nama-nama pokok yang mengikuti nama depan orang Bali juga mulai bergeser.

Selanjutnya, untuk membedakan jenis kelamin, orang bali mengawali setiap nama dengan menambah satu kata lagi, yaitu

Awalan “I” untuk anak lelaki
Awalan “Ni” untuk anak perempuanTapi tidak semua kasta (wangsa) orang Bali menggunakan kata I atau Ni. Misalnya dari golongan Anak Agung semuanya akan diawali dengan kata “Anak Agung”, "Cokorda" dll.

Selain menunjukkan urutan kelahiran, ada nama depan tertentu yang menunjukkan kasta di bali. Penamaan berdasarkan Kasta ini merupakan gelar warisan turun temurun yang melekat pada keturunan orang Bali yang dulunya memiliki kelas tersendiri berdasarka profesinya.

Nama depan seperti "Ida Bagus" untuk pria atau "Ida Ayu" untuk wanita, menunjukkan bahwa dia berasal dari keturunan kasta Brahmana di Bali. Brahmana adalah kasta dari penggolongan profesi sebagai pemuka agama; misalnya pendeta. Contohnya: Ida Bagus Dharmaputra, Ida Ayu Diah Tantri.
Nama depan seperti "Anak Agung", "I Gusti Agung", "Cokorda", "I Dewa", "Desak" (perempuan), "Dewa Ayu" (perempuan), "Ni Gusti Ayu" (perempuan), dan "I Gusti Ngurah", ini berasal dari kasta Ksatria yang merupakan golongan profesi dari pelaksana pemerintahan dan pembela negara. Contohnya: Anak Agung Komang Panji Tisna, Anak Agung Ayu Wulandari, Cokorda Rai Sudarta, I Dewa Putu Kardana, I Gusti Ngurah Adiana, dll.Namun sering kali nama depan dari kasta-kasta (wangsa) di atas juga diikuti dengan urutan kelahiran. Seperti misalnya: Ida Bagus Putu Puja, Ida Ayu Komang Rasmini, I Gusti Agung Made Jayandara, Ni Gusti Ayu Putu Anggraeni, dll.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Sehingga bila ada yang bernama “I Dewa Agung Made Mahendra” itu artinya

“I” menunjukan jenis kelamin Pria
“Dewa Agung” menunjukan gelar Wangsa bukanlah kasta di bali
“Made” menujukan urutan kelahiran, dalam hal ini anak ke 2
“Mahendra” menunjukan nama.Disamping itu ada sapaan yang biasa diberikan oleh orang yang lebih kecil kepada yang lebih tua dan sebaliknya. Diantaranya:

Sapaan “Bli” atau "Wi" untuk setiap pria yang ditemui. Terlepas itu benar atau salah, orang Bali tidak pernah mempermasalahkan. Mereka lebih cenderung untuk menghargai pengunjung yang berusaha “menghormati” dengan sebutan yang lebih akrab seperti “Bli”.
Sebutan “Mbok” diberikan untuk wanita Bali.
Sapaan “Adi / adik” atau menyebut nama langsung diberikan kepada wanita ataupun pria yang lebih muda.Selain itu ada panggilan akrab yang sering didengar untuk memanggil orang bali yang masih kecil, anak remaja atau lebih muda (kira – kira belum menikah) diantaranya

Panggilan "Gus" untuk laki-laki. Gus ini bersumber pada kata “bagus” yang artinya tampan, ganteng
Panggilan "Gek" merupakan singkatan dari “Jegeg” yang artinya cantik, ayu.
Bila kita melihat maksud dan tujuan dari penyampaian yang tersirat dalam budaya masyarakat asli Bali, ada pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya, yaitu kita harus selalu dapat menghormati kepada yang lebih tua. Dengan kata lain budaya merupakan pembelajaran norma-norma kehidupan yang tidak terlepas dari pada apa yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita dalam hidup di alam semesta ini.

Demikian penjelasan saya tentang arti di balik nama-nama orang Bali. Semoga bermanfaat buat rekan yang membacanya. Mohon maaf bila ada nama saudara-saudara di Bali yang kebetulan saya sebutkan sebagai contoh dalam tulisan saya ini. Apabila ada kekurangan dalam penjelasan ini, saya menerima kritik dan saran dari rekan sekalian. Terima kasih

Sumber : cakepane.blogspot.com

Minggu, 14 Februari 2021

Etika Makan Cara Hindu; Hindari Ngeleklek, Nidik, hingga Nyilapin

 






Ilustrasi (ISTIMEWA)


DENPASAR, BALI EXPRESS - Makan tidak hanya diatur berdasarkan etika formal. Namun, di Hindu ada aturan khusus tata cara makan yang mengacu berdasarkan sejumlah kitab suci. Seperti apa aturannya?


Cara Simple mendapatkan penghasilan harian dari trading forex klik disini

Sikap makan dalam ajaran agama Hindu dapat ditemui dalam Kitab Manawa Dharma Sastra dan Lontar Tutur Lebur Gangsa. Dikatakan Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, posisi ke arah mana makan pun juga mempunyai makna tersendiri, seperti dituangkan dalam Manawa Dharma Sastra II. 52.

"Seseorang yang menyantap makanan menghadap ke timur akan panjang umur. Jika menghadap ke selatan akan menjadi terkenal. Kalau seorang makan menghadap ke barat, maka akan makmur, dan jika menghadap ke utara, ia akan mendapat kebenaran," papar Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika, yang juga Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) akhir pekan kemarin di Denpasar.



Tata cara makan, lanjutnya, hendaknya dimulai dengan doa sebelum mulai makan.
Selanjutnya seorang harus melihat makanannya dengan rasa suka cita. "Jangan merasa muak bila makanan yang sedang kita hadapi tiada berkenan. Jangan pula mencela makanan yang dihidangkan, bilamana makanan tersebut bukan menjadi kesukaan," paparnya.


Dikatakan Pinandita Ketut Pasek Swastika, penghormatan makanan walau tidak disukai ini, termuat dalam Manawa Dharma Sastra II.54 yang isinya 'Ia harus selalu menghormati makanan dan menyantapnya tanpa rasa muak, baik ketika ia melihat makanan itu hendaknya merasa bahagia dan menunjukkan rasa suka cita dan mendoakan akan selalu memerolehnya'.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

"Usai menyantap makanan, maka seseorang disarankan untuk membersihkan tangannya. Lalu memercikkan air ke ubun-ubun dengan harapan nantinya beliau memberi waranugraha atas apa yang telah dimakan. Terakhir barulah ditutup kembali dengan doa, agar kelak selalu diberikan hal yang sama berupa makanan," ujarnya.


Sebagai manusia hendaknya tidak menyantap makanan secara berlebihan. Hal ini tertuang dalam Manawa Dharma Sastra II.56, yang menyebutkan, janganlah menyantap makanan yang ditinggalkan seseorang dan jangan makan diantara dua waktu makan, hendaknya jangan makan berlebihan atau pergi kemanapun sesaat dan setelah makan sebelum membersihkan mulut.
Ditambahkannya, pada Lontar Tutur Lebur Gangsa perilaku cara menikmati makanan (nasi) juga dibahas. Hal ini pun mungkin sering didengar seseorang dalam nasihat orang tua pada anaknya ketika sedang makan.


Pinandita Ketut Pasek Swastika menjelaskan bahwa dalam Lontar Tutur Lebur Gangsa ada beberapa istilah cara makan yang sebaiknya tidak dilakukan. Mulai dari Nyeret yang artinya sikap seseorang makan nasi sambil berjalan, sehingga kurang pantas dilakukan karena tidak elok dilihat orang lain.


Tidak hanya itu, ada juga makan sambil melakukan pekerjaan atau kegiatan lain yang disebut dengan Ngeleklek, tidak pantas dilakukan karena menjadi tidak fokus. Kemudian ada istilah Nugtih, yaitu ketika makan sambil duduk kaki membujur terlilit ke depan. Berikutnya ada Ngeloklok, yakni makan dengan cara berjongkok, yang memang secara etika kurang enak dilihat orang lain.


Selain itu, ada juga disebut Leler, yakni gaya makan dengan berdiri. Hal ini tentu sering juga didengar secara umum bahwa makan berdiri sebaiknya dihindari karena secara kesehatan tidak baik. Selanjutnya ada Mamantet, yakni sikap makan dengan berdiri sambil menghadap ke barat. Kemudian ada Nidik, hampir sama dengan Mamantet, makan berdiri bedanya dilakukan sambil menghadap ke selatan.


Lebih lanjut lagi ada Ngamah. Ini adalah posisi makan sambil tiduran. Sebuah sikap yang tentu kurang sopan jika dilihat dan bisa juga menimbulkan asam lambung naik. Namun, tentu bagi orang yang sakit ini tidak menjadi larangan.


Lalu ada Mlokpok, yakni posisi makan dengan cara seperti binatang langsung memakai mulut. Terakhir ada yang dinamai Nyilapin. Gaya makan ini dengan cara duduk, tetapi lutut diberdirikan (bukan bersila).


Pinandita Ketut Pasek Swastika menjelaskan bahwa semua etika maupun larangan makanan itu ada maksudnya. Seperti nasihat dilarang makan di depan pintu, karena nantinya menghalangi orang yang mau keluar masuk lewat pintu tersebut.


Di tempat terpisah, tokoh spiritual kelahiran Padangtegal, Ubud, Gianyar, Rasa Acharya Praburaja Darmayasa mengatakan, tradisi leluhur Bali menyisihkan sedikit makanan di sisi piring sebelum makan, merupakan tradisi yang indah yang perlu diabadikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai orang yang menghormati dan mengerti ajaran leluhur. Selain ingin melestarikannya demi kesejahteraan hidup lahir batin. Ditambahkan murid tunggal maestro kundalini India, Acharya Kamal Kishore Goswami ini, terdapat pula tradisi tidak boleh berbicara jika sedang menghadapi makanan.

"Makanan dihormati sebagai amerta oleh leluhur dengan istilah nunas amerta,”'papar penulis buku spiritual berbahasa Hindi dan Inggris ini.

Dalam Padma Puraṇa disebutkan bahwa orang hendaknya mencuci kelima anggota badannya terlebih dahulu sebelum makan. Dengan melakukan hal itu, orang akan bisa menikmati usia hidup yang panjang. Kelima anggota badan dimaksud adalah kedua kaki, kedua tangan, dan muka. Hal ini didukung pula oleh kitab Mahabharata, Santi Parwa 193.6; pañcardro bhojanaṁ bhunjyat. Tidak dianjurkan juga makan di tempat gelap atau sambil tidur.




Dikatakan pria yang tengah menjalankan misi memberikan sejuta buku Bhagawadgita kepada umat ini, leluhur menyebutkan makan dengan cara sangat indah yaitu Nunas Ajengan. "Istilah Nunas Ajengan mempunyai pengertian bahwa kita tidak memiliki makan, tetapi memohon makanan dari pemiliknya, yaitu Hyang Parama Iswhara. Kesadaran seperti ini sangat indah untuk diajegkan di dalam hati, mengingat memang sebenar-benarnya kita ini tidak mempunya apa-apa di dunia ini," ujar pemilik Ashram Meditasi Angka di Padanggalak, Sanur ini, akhir pekan kemarin.


Lahir ke dunia ini, lanjut Darmayasa, tidak membawa apa-apa, selain hanya tangisan yang keras dan nanti juga akan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa-apa. "Kesadaran yang diwujudkan dalam istilah Nunas Ajengan sangatlah bermakna. Ia sangat pantas untuk diajegkan, mulai dari dalam keseharian diri sendiri dan kemudia ditularkan kepada anak cucu " ujarnya. Paling tidak, lanjutnya, ajeg tradisi leluhur sesederhana itu dapat dilakukan oleh semua. Tidak ada alasan tidak mematuhinya.


"Bagi diri sendiri, tata cara ini sangatlah mulia. Kita memohon makanan karena makanan tersebut sudah bukan makanan lagi," bebernya. Ditegaskan Darmayasa, dalam ajaran Veda, orang memasak makanan bukanlah untuk diri sendiri, melainkan untuk persembahan kepada Tuhan. Makanan yang dimasak itu diyadnyakan kepada-Nya, dipersembahkan terlebih dahulu kepada-Nya. Oleh karena itu, makanan tersebut sudah bukan milik pemiliknya. Makanan yang dimasak dan dipersembahkan kepada Tuhan, tidak lagi berupa makanan, melainkan ia sudah berubah menjadi amerta (yajña-Å›iṣṭāmá¹›ta bhujo), karunia Tuhan yang dinamakan lungsuran atau Prasadam. "Istilah ngejot, masaiban, dan yadnya seá¹£a merupakan tradisi indah mulia yang patut diajegkan," katanya.


Ditegaskannya, untuk memohon makanan atau Nunas Ajengan lungsuran Tuhan Yang Maha Esa itulah kita perlu mempersipakan diri dalam keaadan bersih. Panca Anga kita harus dibersihkan dengan air terlebih dahulu.


Menurut para orang tua, ketika orang mencuci Panca Anga sebelum Nunas Ajengan, kebiasaan indah itu dapat memperpanjang usia seseorang. Lantas, Apa hubungannya antara mencuci Panca Anga itu sebelum makan? Dijelaskannya, para saintis bisa menjelaskannya secara saintifik. Tangan yang bersih bebas dari kotoran akan memastikan makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak tercemar kotoran atau kuman penyakit.


Selain itu, ujung-ujung jari tangan mengandung titik saraf yang berhubungan dengan enzim yang berhubungan dengan pencernaan. Jari yang bersih menyebabkan saraf-saraf lebih peka merasakan tekstur dan suhu makanan. Informasi ini dikirim ke kelenjar untuk mempersiapkan jenis enzim yang diperlukan. Ini juga alasan mengapa makanan dengan jemari tangan lebih baik daripada dengan alat seperti sendok atau sumpit. "Kalau jari tangan bisa memegang makanan (suhunya tidak panas) artinya lidah juga bisa menerima, tidak akan melepuh. Pesan tersebut tidak bisa disampaikan oleh sendok, garpu atau sumpit," urainya.


Leluhur juga memberikan wanti-wanti tidak boleh mencela makanan. Apa pun dan bagaimanapun makanan di hadapan kita, itulah karunia Tuhan. Mengingat makanan merupakan amerta penghidup.


Mereka yang hendak memasak makanan, lanjutnya, hendaknya mandi terlebih dahulu agar badan dan pikiran menjadi lebih bersih serta damai. Badan dan pikiran yang bersih akan memudahkan mereka yang memasak makanan untuk memasukkan rasa kasih sayang ke dalam makanan. Dengan demikian, setiap anggota keluarga yang memakan makanan tersebut pasti akan terbantu kesadarannya terjaga menjadi lebih bersih dan damai.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Diuraikannya, Bhgawadgita mengajarkan bahwa orang saleh yang memakan makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu sebagai persembahan suci, terbebaskan dari segala dosa. Sedangkan mereka yang memasak makanan untuk kenikmatan diri sendiri, sesungguhnya mereka hanya memakan dosa.


Ditambahkannya, dalam Manawa Dharma Sastra disebutkan, dengan mempersembahkan kepada Tuhan (pūjita) maka makanan itu memberikan tenaga (bala) dan kekuatan (ūrja). Tetapi, bila tidak dipersembahkan (apūjita) pastilah akan menghancurkan keduanya (tenaga dan kekuatan). "Jika orang berhasil melaksanakan kebiasaan tersebut dalam keseharaiannya, maka ia mendapatkan hasil dari pelaksanaan puasa," pungkas Darmayasa.

(bx/sue/yes/JPR)

https://baliexpress.jawapos.com/read/2020/01/06/173435/etika-makan-cara-hindu-hindari-ngeleklek-nidik-hingga-nyilapin

Sabtu, 13 Februari 2021

Aura yang Muncul dari Tanaman Pekarangan Berdasarkan Penempatannya

 







BALI EXPRESS, GIANYAR - Keyakinan akan apa yang baik dan buruk ditanam di pekarangan rumah, sampai saat ini memang masih dianut masyarakat Bali. Karena di satu sisi ada tanaman yang bisa membawa aura positif, di sisi lain ada juga yang malah membawa aura negatif.


Sampai saat ini kerap terucap dari para orang tua, ketika melihat ada tanaman Ketapang atau Saba yang tumbuh di pekarangan rumah. “Kenapa menanam ketapang di pekarangan rumah. Nanti dihuni mahluk halus loh.” Nada protes seperti itu pun biasanya tak hanya untuk jenis tanaman Ketapang, namun juga untuk jenis tanaman lainnya. Menilik kata-kata para orang tua dulu, sebenarnya tak hanya jenis tanaman tertentu yang 'dilarang', karena sebaliknya juga menganjurkan untuk menanam jenis tanaman lainnya di pekarangan rumah.
Alasannya tentu beda, tanaman tersebut akan membawa damuh atau rezeki dan bisa juga menjadi pelindung bagi penghuni rumah.


- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI


Ida Bagus Putu Adi Suparta, pemilik Pasraman Upacara, Pasraman Taman Prakerti Buana di Beng, Gianyar, yang dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin, mengakui, memang ada jenis-jenis tanaman yang cocok ditanam di pekarangan rumah, dan ada pula yang tidak. Bahkan, menurut dia, tidak hanya ditentukan mana jenis tanaman yang cocok ditanam di pekarangan rumah semata, tapi juga jenis tanaman yang cocok ditanam di areal merajan, hingga di depan pekarangan rumah, diwangan (di luar) atau di samping angkul-angkul.



“Betul, secara keyakinan umat Hindu, khususnya di Bali, keyakinan seperti itu memang ada. Itu jelas tertuang dalam lontar Taru Premana. Bahkan di dalam lontar tersebut dengan jelas tertulis, mana jenis tanaman atau kayu jenis pohon tertentu yang cocok digunakan untuk bahan sanggah, atau untuk tapakan sasuhunan, semisal barong. Jadi, di lontar itu lengkap memuatnya,” ucapnya.



Dia pun membeber beberapa jenis tanaman yang menurut keyakinan hanya cocok ditanam di tempat tertentu.



Dijelaskannya, khusus untuk jenis tanaman yang paling cocok ditanam di areal merajan atau sanggah, ada beberapa jenis. Mulai dari jenis pohon Naga Sari, yang disebutkan dapat membawa aura sangat positif bagi pekarangan rumah, dan tentunya bagi keluarga yang menghuninya, seperti bisa membawa keselamatan, keamanan hingga kerukunan. Kemudian ada juga segala jenis tanaman Tunjung, yang juga disebut mengandung aura positif.

“Intinya segala jenis tanaman yang bunganya bisa digunakan untuk sembahyang, secara keyakinan sangat cocok untuk ditanam di merajan, termasuk Jepun. Karena secara aura, jenis tanaman ini membawa aura positif bagi rumah dan keluarga yang menghuninya,” paparnya.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Namun, khusus untuk jenis tanaman Jepun, lanjutnya, disarankan untuk tidak ditanam di halaman rumah, apalagi di depan bale daja. Larangan yang sama juga berlaku untuk jenis tanaman Kembang Kertas, sebab bisa membawa aura negatif. Berbeda jika Jepun dan Kembang Kertas ini ditanam di halaman merajan, yang malah akan membawa aura positif.


Nah, jika tanaman Jepun maupun Kembang Kertas menurut pria ini tak baik ditanam di depan bale daja di pakarangan rumah. Khusus untuk jenis Anggrek, dia sarankan untuk lebih banyak ditanam di halaman rumah. Lantaran Anggrek memiliki aura kesejukan, yang akan membawa kerukunan dan kesejukan dalam rumah tangga.


Selain Jepun (Kamboja) dan Kembang Kertas, Kaktus pun dia ingatkan juga tidak baik untuk ditanam berlebihan di pekarangan rumah. Lantaran Kaktus bisa membawa efek negatif, seperti sering menimbulkan gejolak dan ribut dalam rumah tangga.

“Terus untuk jenis tanaman berbuku juga tidak baik ditanam di halaman rumah, karena dapat menghambat rezeki. Apalagi kalau ditanam dalam jumlah yang berlebihan. Kalau untuk satu dua tanaman sih masih tidak terlalu masalah, asalkan tetap harus diimbangi dengan tanaman yang cocok, seperti tanaman bunga-bunga tadi,” bebernya.



Menurut pria yang juga pegawai di Dinas Pariwisata Gianyar ini, untuk jenis tanaman Kaktus ini malah akan membawa aura positif jika ditanam di depan rumah atau di sekitar depan angkul-angkul rumah. "Apalagi untuk jenis Kaktus Blatung Gada karena memiliki fungsi melindungi jika ada sesuatu, termasuk melindungi dari serangan negatif. Termasuk semua tanaman yang berduri, semisal Mawar, Kem, itu juga bagus untuk di luar rumah sebagai penjaga,” bebernya.


Diakui olehnya, bahwa aura sebuah pekarangan akan sangat positif, jika tanaman ditanam di lokasi yang sesuai. Misalnya ada tanaman Nagasari dan Tunjung di halaman merajan. Lalu di pekarangan rumah dilengkapi dengan Anggrek dan tanaman Semar Manjangan. Auranya pun semakin positif jika di depan rumah ditanami dengan tanaman berduri.

“Maka dengan kelengkapan itu, secara keyakinan akan sangat membawa atau merukunkan dalam sebuah rumah tangga yang hidup di dalam rumah dan pekarangan itu,” ungkapnya.



“Cuma saya ingatkan, kalau jenis Tunjung masih boleh di dua sisi. Artinya ditanam di merajan dan halaman rumah bisa. Kalau Nagasari memang khusus harus di merajan. Begitu juga jenis Kaktus itu juga harus diwangan (depan rumah),” tegasnya lagi.


Ida Bagus Putu Adi Suparta tak menyanggah mengenai beberapa jenis tanaman yang di masyarakat 'pantang' ditanam di halaman rumah, di antaranya Saba, Pule, Bingin, Keluh, lantaran diyakini bisa menjadi tempat untuk dihuni mahluk 'lain', seperti wong samar, jin, dan lainnya.

Dia mengatakan, untuk jenis pohon besar seperti Saba, Pule, Bingin, Kepuh, termasuk Ketapang memang menurut keyakinan tak baik ditanam di pekarangan rumah. Karena selain bisa menjadi hunian mahluk halus, dapat mengganggu penghuni rumah. Pohon-pohon jenis tersebut auranya lebih cocok ditanam di tempat umum, semisal pura, hingga kuburan. Lalu, bagaimana kalau ditanam di atas pot?

"Kalau ditanam di pot, aura negatifnya memang berkurang, karena tidak menyentuh langsung ibu pertiwi. Tapi, tetap saja aura negatifnya masih ada. Makanya, lebih baik memang ditanam di tempat umum,” bebernya.

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Pada dasarnya, lanjutnya, semua pohon mengandung aura negatif dan positif. "Cuma aura positifnya akan besar jika ditanam di tempat yang tepat. Begitu juga sebaliknya aura negatifnya akan semakin besar, jika ditanam di tempat yang tidak tepat,” pungkasnya.

(bx/wid/ima/rin/yes/JPR)

https://baliexpress.jawapos.com/read/2018/02/05/46345/ini-aura-yang-muncul-dari-tanaman-pekarangan-berdasarkan-penempatannya

Jumat, 12 Februari 2021

Menyingkap Misteri Dewa Brahma Jarang Dipuja

 






ANDAKASA : Pura Andakasa di Angantelu, Manggis, Karangasem, salah satu tempat pemujaan untuk Dewa Brahma. (ISTIMEWA)


Share this

Berita Terkait

KMHDI dan Dirjen Bimas Hindu Gagas Program Satu Anak Satu Buku
600 Personel dari Polda Bali dan 4 Polresta Amankan Demo Tuntut AWK


BALI EXPRESS, DENPASAR - Jika dibandingkan dengan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, Dewa Brahma yang paling jarang dipuja. Ada sejumlah purana yang membeber muasal Dewa Brahma akhirnya mendapat perlakuan beda umat Hindu. Benarkah seperti itu, dan seperti apa kisahnya?


Dalam Kurma Purana, Vayu Purana, dan Siwa Purana, dikisahkan pencarian oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu untuk menemukan Anadi (awal) dan Ananta (akhir) dari Dewa Siwa, di mana kisahnya tertuang dalam Legenda Siwa Lingga (Lingodbhavamurthy).

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI


Mengutip Hindualukta, bahwa legenda ini membuktikan kemahakuasaan Dewa Mahadewa lebih dari Dewa Hindu lainnya. Selain itu, juga menjelaskan mengapa lingga diyakini menjadi salah satu lambang yang paling ampuh untuk mencapai tujuan dalam Hindu.


Berdasar purana tersebut, dua dari Dewa Tri Murti, yakni Brahma dan Wisnu menunjukkan kemampuannya masing-masing . Lantaran keduanya punya kekuatan, dewa lainnya takut akan terjadi pertempuran yang kian sengit. Para dewa lainnya lantas meminta Siwa menjadi penengah. Dewa Siwa selanjutnya muncul berbentuk Lingga yang menyala di antara Brahma dan Wisnu, dan kemudian menantang keduanya dengan meminta mereka untuk mengukur panjang dari Lingga. Terpesona oleh besarnya, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk mencari ujung Lingga itu. Dewa Brahma berubah bentuk menjadi Angsa dan melesat ke atas, sementara Dewa Wisnu mengambil bentuk Varaha (babi hutan) dan masuk ke tanah menuju ujung bumi. Keduanya mencari ribuan mil, tetapi tidak bisa menemukan ujung akhirnya. Pada perjalanannya ke atas, Brahma menemukan bunga Ketaki. Lantaran lelah dan bingung dengan pencariannya yang tak juga menemukan ujung teratas dari lingga yang berapi-api, Brahma lalu sepakat dengan bunga Ketaki untuk berbohong bahwa ia telah menemukan ujung teratas dan bunga itu berada.

Dewa Brahma lalu turun dan bertemu dengan Dewa Wisnu, dan menegaskan bahwa ia telah menemukan ujung Lingga itu. Namun, setelah pernyataan Brahma tersebut, tiba-tiba bagian tengah Lingga terbelah dan Siwa muncul. Dewa Brahma dan Wisnu kemudian membungkuk memberi hormat karena kemahakuasaan Dewa Siwa. Dalam kesempatan tersebut, Dewa Siwa juga menjelaskan kepada Brahma dan Wisnu, bahwa keduanya lahir dari dia dan kemudian dipisahkan menjadi tiga aspek kemahakuasaan Tuhan. Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa sebagai pelebur (Pemralina). Namun, Dewa Siwa marah dengan Dewa Brahma karena telah berbohong. Kemudian Dewa Brahma dikutuk bahwa tidak seorang pun yang akan berdoa kepada-Nya. Dewa Siwa juga menghukum bunga Ketaki karena ikut berbohong dan melarang dia digunakan sebagai persembahan ibadah apa pun. Karena itu pada hari ke-14 (Bulan Gelap) bulan Phalguna, Dewa Siwa mengubah bentuk menjadi Lingga, dan pada hari itu pula diperingati sebagai Mahashivaratri , yakni malam pemujaan Siwa. Legenda ini sekaligus menjelaskan mengapa sedikit pemuja Brahma, termasuk minimnya Candi Brahma ditemui di India dan negara lainnya, termasuk juga di Bali.



Brahma di India memang jarang mendapatkan tempat khusus, meski masyarakat India didominasi agama Hindu. Masyarakat Hindu India lebih banyak memuja para Shakti atau Devi (Shaktiisme), Wisnu (Waisnawa), atau Siwa (Shaivanism). Bagaimana dengan di Bali?

Penganut Hindu Nusantara meninggalkan sejumlah jejak,bahwa memuja Dewa Brahma. Di Prambanan misalnya, Brahma dibuatkan candi khusus berdampingan dengan Wisnu. Di Bali ada Pura Andakasa di Angantelu, Kecamatan Manggis, Karangasem, yang dikhususkan bagi pemuja Dewa Brahma.

Jro Mangku Danu, mengatakan, sebenarnya bertalian dengan puja untuk Dewa Brahma sering dilakukan umat Hindu. Bahkan, untuk bisa memuja dewa lainnya termasuk Siwa dan Wisnu, lanjut Pamangku Pura Kawitan Dukuh Aji Patapan, Desa Kedisan, Kintamani ini, umat mesti terlebih dahulu memuja Brahma. “Setiap ucapan yang keluar sesungguhnya adalah ucapan dari Brahma. Setiap sabda atau suara adalah Brahma itu sendiri, dan di Veda dinyatakan Brahma berstana di lidah atau suara,” terang Jro Mangku Danu kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (16/11) kemarin

Bahkan, lanjutnya, pranawa suci OM (AUM) berawal dari huruf A yang bermakna Agni dan juga Brahma. Sementara U adalah Udaka yang bermakna Air yang juga Wisnu, sedangkan M berarti Marut, juga Bhayu yang juga Siwa.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Diakui Jro Mangku Danu, memang dalam puja mantram nama Brahma tidak disebut langsung, seperti halnya Dewa Siwa atau Wisnu. Akan tetapi setiap mamtram agar bertuah selalu diberkati oleh Brahma lewat kata Swaha. “Swaha adalah Sakti dari Agni yakni Brahma. Tanpa kata Swaha, mantram kehilangan tuahnya. Makanya, mantram diawali oleh OM ( AUM) dan ditutup dengan Swaha,” pungkas pamangku yang menekuni meditasi secara otodidak ini.

(bx/rin/yes/JPR)

https://baliexpress.jawapos.com/read/2017/08/24/9520/menyingkap-misteri-dewa-brahma-jarang-dipuja

Rabu, 10 Februari 2021

Dewata Nawa Sanga - Penguasa 9 Penjuru Mata Angin

 





Penguasa 9 Penjuru Mata Angin
Dewata Nawa Sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widh. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Istilah Deva sebagai mahluk Tuhan adalah karena Deva dijadikan ( dicipta-kan ) sebagaimana dukemukakan di dalam kitab Reg Veda X. 129.6. Dengan diciptakan ini berarti Deva bukan Tuhan melainkan sebagai semua mahluk Tuhan yang lainnya pula, diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) .

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Disamping pengertian di atas, dalam Reg Veda VIII.57.2, dijelaskan pula tentang banyaknya jumlah Deva yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Deva tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati.
lebih lengkapnya silahkan baca: Dewa dan Bhatara (Betara)


Berikut ini adalah nama dan makna menurut Upanishad Brihadaranyaka dan itihasa Mahabharata, Kedelapan Vasu tersebut adalah:

Agni ( Dewa api - "Panas api" ), atau Anala (juga disebut Agni) yang bermakna "Hidup"
Prthivi ( Dewa tanah - "Bumi" ), atau Dhara yang bermakna "Dukungan"
Vayu ( Dewa angin - "Angin" ), atau Anila yang bermakna "Angin"
Dyaus ( Dewa langit - "Langit" ), atau Prabhasa yang bermakna "Bersinar fajar"
Aditya ( Dewa matahari - "Abadi", nama yang sangat umum untuk matahari adalah Surya ), atau Pratyūsha yang bermakna "Pra-fajar", yaitu senja pagi, tetapi sering digunakan hanya berarti "cahaya"
Savitra ( Dewa antariksa - "Ruang" ), atau Ha yang bermakna "Meresapi"
Chandramas ( dewa bulan - "Bulan" ), atau Soma yang bermakna "Soma-tanaman", dan nama yang sangat umum untuk bulan
Nakstrani ( Dewa bintang - "Bintang" ), atau Dhruva yang bermakna "Bergerak", nama Polestar
Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.

Kapali menunjukkan tulang (dinyatakan dalam istilah feminin) atau cangkir / mangkuk yang digunakan untuk menyimpan makanan. Dengan kata lain bisa disebut sebagai kepala perempuan atau penyedia perempuan. Ini menunjukkan kekuatan Rudra tertanam jauh di dalam Amba.
Pingala menunjukkan api coklat kemerahan. Ini adalah api yang dimulai di Amba bawah pengaruh Purusha
Bima menunjukkan kekuatan, kuat hebat dan luar biasa. Ini adalah gaya Prana (Angkatan Kuat atau gluon dalam istilah modern) yang terbentuk api di Amba,
Virupa-aksha menunjukkan multi-lipat, multi-warna mata. Ini adalah Aksi / Caksu kekuatan ( tenaga lapangan) yang berasal dari Amba,
Vilohita menunjukkan kekuatan merah tua. Merah menunjukkan jarak jauh. Ini adalah Higgs kekuatan-bidang yang memiliki jangkauan panjang dengan intensitas rendah (Higgs lapangan)
Abhirbudnya menunjukkan sesuatu yang di kedalaman atau jauh di dalam inti. Ini adalah Getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba bergetar seperti partikel Core (Baryon),
Shasta menunjukkan untuk menahan, mengendalikan, perintah atau perintah. Ini adalah getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba terlihat seperti partikel tersembunyi, yang merupakan 'Mana' Partikel (meson)
Ajapada menunjukkan kambing berkaki. Ini adalah getaran yang menyebabkan senar terbentuk pada Amba untuk menjauh dan membentuk partikel Satelit (lepton) dengan Getaran yang berbeda. Ini adalah kekuatan yang membawa dalam Apana (mengusir kekuatan atau Angkatan Lemahnya boson W dan Z) dan memulai proses dari Peluruhan Radio-aktif yang tidak lain adalah kematian. Hal ini disebut sebagai kambing berkaki dengan kekuatan atom bisa dibentuk dengan penta / struktur heksagonal. (Orbit elips beberapa partikel satelit sekitar partikel inti membentuk struktur kaki berbentuk kambing)
Bhava menunjukkan datang ke keberadaan atau kelahiran. Ini adalah getaran yang menyebabkan ziznam.
Chanda menunjukkan memikat atau mengundang. Ini adalah getaran yang menyebabkan Reta yang berarti aliran bergerak atau mengalir.
Shambu menunjukkan mempertemukan atau bertemu atau bergabung. Ini adalah getaran yang menyatukan ziznam, reta dan Apa dan menyediakan platform untuk hidup.
Semua makhluk biologis memiliki dimensi kesembilan, kesepuluh dan kesebelas, di alam semesta Ruang. Medan gaya yang hadir di ruang mana-mana (yang berasal dari Amba) mendorong proses penciptaan protein, medium asam dan basa menengah yang memulai proses kehidupan biologis. Bidang ini berlaku dapat dipahami sebagai mewujudkan sebagai kondisi lingkungan untuk evolusi kehidupan biologis (untuk misalnya, suhu air dll) di seluruh alam semesta untuk membuat protein, asam dan basa.




Dewa Astadikapala
Adapun Deva -deva yang lainnya yaitu Aditya dilambangkan sebagai hukum tertinggi, sebagai pengatur alam semesta di bawah kekuasaan Tuhan. Selain sifat – sifat Deva dia atas dalam Reg Veda X.36.14 , dijelaskan pula bahwa fungsi Deva adalah sebagai Dikpala, yaitu penguasa atas penjuru mata angin ( arah ) .

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Dasar pemikiran ini bersumber pada pengertian bahwa Tuhan Maha Ada, sebagai hakekat yang memenuhi ruang dan waktu. Atas dasar pola pemikiran di atas timbul pula konsep – konsep baru tentang hubungan Deva-deva dengan penjuru arah mata angin dan membaginya menjadi sembilan sesuai dengan arah mata angin yang biasa. Namun menjadi sebelas dimasukkan zenit dan nadir . Kesembilan arah mata angin tersebut secara rinci diuraikan dalam pembahasan berikut.


Dewa juga ciptaan Tuhan yang berfungsi untuk mengendalikan alam semesta. Dewa-dewa dihubungkan dengan aspek-aspek tertentu dan khusus dari phenomena yang ada di alam semesta ini. Setiap aspek dikuasai oleh satu Dewa tertentu dengan ciri-ciri dan lambang yang khusus.


Masing-masing Dewa memiliki sakti yang tidak terpisahkan darinya, seperti halnya suami istri, karena Dewa tidak dapat melakukan tugas sesuai fungsinya apabila tidak dengan saktinya. Sehingga jika Dewa diwujudkan dalam bentuk laki-laki, maka saktinya diwujudkan dalam bentuk wanita, maka dengan perpaduan Dewa (Purusa) dan Sakti (Pradana) tugasnya dapat dilakukan sesuai fungsinya.


Dalam Hinduism, sebagai sinar suci atau manifestasi Tuhan yang menguasai, menjaga alam semesta, Dewa juga dilengkapi dengan senjata, kendaraan dan juga diwujudkan dalam bentuk simbol atau aksara.


Misalnya Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Tri Murti yaitu :

Dewa Brahma dengan saktinya Dewi Saraswati, kendaraannya Angsa, senjatanya Danda/Gada dengan aksara suci “Ang”
Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Sri (Laksmi), kendaraannya burung Garuda, senjatanya Cakra dengan aksara suci “Ung”
Dewa Siwa dengan saktinya Dewi Durga (Uma), kendaraannya Lembu, senjatanya Padma dengan aksara suci “Mang”
Semua perwujudan Dewa dan Saktinya diwujudkan berbeda-beda tergantung dari penggambaran umat Hindu terhadap beliau. Misalnya wujud Dewa dan Saktinya di India dan di Bali sangatlah berbeda, namun fungsinya sama.

Semua sakti-sakti para Dewa itu digambarkan memiliki paras yang cantik, namun Dewi Uma yang cantik apabila dalam tugasnya sebagai Dewi Maut (Durga) memiliki wajah yang sering digambarkan dalam wujud Rangda oleh masyarakat Bali.
Dewa Brahma berwujudkan sebagai Maha Rsi yang tua karena usia beliau melebihi alam semesta, dikarenakan Dewa Brahma-lah yang bertugas menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini, beliau juga diwujudkan dalam bentuk berwajah empat (Catur Muka).
Dewa Wisnu berwujudkan sebagai Dewa yang berparas paling elok, beliau juga diwujudkan dalam bentuk berkepala tiga (Tri Sirah).
Dewa Siwa berwujudkan seorang Pertapa, karena beliaulah yang menguasai hidup manusia sehingga beliaulah yang akan meleburnya kembali, beliau juga diwujudkan bertangan empat (Catur Buja).
Dari perwujudan sesuai gambaran umatnya inilah dibuatkan patung (arca).


Dalam ajaran Hindu, jumlah Dewa adalah banyak sekali sesuai setiap fungsi yang ada dalam alam semesta ini. Diibaratkan Sang Hyang Widhi adalah Matahari, maka Dewa adalah sinar matahari yang jumlahnya tak terhingga. Matahari dikatakan panas, namun sinar nyalah yang menyentuh kita secara langsung.


Demikian juga dengan Sang Hyang Widhi, Dewa sebagai sinar sucinya lah yang menghubungkan kita langsung denganNya. Mungkin dalam agama lain disebutkan Dewa itu sebagai Malaikat.

Dalam ajaran Hindu ada sebutan Tri Murti, Panca Dewata/Panca Brahma, Dewata Nawa Sanga, Asta Dewata, Panca Korsika dan lainnya. Panca Dewata adalah manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai penjaga segala penjuru mata angin yaitu :

Sadyojata (Iswara) di Timur dengan aksara suci “Sa”
Bamadewa (Brahma) di Selatan dengan aksara suci “Ba”
Tat Purusa (Maha Dewa) di Barat dengan aksara suci “Ta”
Aghora (Wisnu) di Utara dengan aksara suci “A”
Isana (Siwa) di Tengah dengan aksara suci “I”
Panca Dewata disebut juga dengan Panca Brahma, sehingga kelima aksara suci “Sa Ba Ta A I” disebut “Panca Brahma Wijaksara”.


Disamping itu ada juga lima manifestasi Hyang Widhi lainnya yaitu :

Maheswara di Tenggara dengan aksara suci “Na”
Rudra/Ludra di Barat Daya dengan aksara suci “Ma"
Sangkara di Barat Laut dengan aksara suci “Si”
Sambu di Timur Laut dengan aksara suci “Wa”
Siwa di Tengah dengan aksara suci “Ya”
Kelima aksara suci “Na Ma Si Wa Ya” disebut dengan Panca Aksara.


Namun dalam ajaran agama Budha Mahayana, Panca Dewata (Panca Brahma) disebut dengan “Panca Tatagata” yaitu:

Aksobhya di Timur dengan aksara suci “Ah”
Ratnasambhawa di Selatan dengan aksara suci “Ung”
Amitaba di Barat dengan aksara suci “Trang”
Amogasidhi di Utara dengan aksara suci “Hrih”
Wairocana di Tengah dengan aksara suci “Ang”
Sehingga kelima aksara “Ah Ung Trang Hrih Ang” disebut dengan Panca Wijaksara Tatagata sedangkan Panca Aksara Budha nya “Na Ma Bu Da Ya”.


Apabila dalam Panca Aksara dan Panca Brahma Wijaksara digabungkan menjadi Dasa Aksara “Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya”, jika ditambahkan dengan aksara “Om” maka disebut “Eka Dasa Aksara”.


Dewata Nawa Sanga sering disebut juga dengan “Loka Pala”.




Asta Dewata adalah delapan manifestasi sifat Hyang Widhi sebagai penguasa yaitu :

Indra menguasai Hujan
Baruna menguasai Lautan
Yama menguasai Arwah Manusia
Kuwera menguasai Kekayaan Alam
Bayu menguasai Angin
Agni menguasai Api
Surya menguasai Matahari
Candra menguasai Bulan
Beberapa sebutan lain manifestasi Sang Hyang Widhi di penjuru mata angin adalah Panca Korsika, yaitu:

Sang Hyang Korsika di Timur
Sang Hyang Garga di Selatan
Sang Hyang Mentri di Barat
Sang Hyang Kurusya di Utara
Sang Hyang Prutanjala di Tengah

CARA MUDAH DAPAT UNTUNG DARI TRADING FOREX KLIK DISINI

Dewata Nawasanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa.



Ersanya / Timur Laut
Urip : 6.

Dewa : Sambhu.
Sakti : Maha Dewi.
Senjata : Trisula.
Warna : Biru.
Aksara : Wa.
Bhuwana Alit : Ineban.
Tunggangannya : Wilmana.
Bhuta : Pelung.
Tastra : Pa dan Ja.
Sabda : Mang mang.
Wuku : Kulantir, Kuningan, Medangkungan, Kelawu.
Caturwara : Sri.
Sadwara : Urukung.
Saptawara : Sukra.
Astawara : Sri.
Sangawara : Tulus.
Dasawara : Sri.
Dewa Sambhu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya (kendaraan) Wilmana, shaktinya Dewi Mahadewi, aksara sucinya "Wa", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem.
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta.
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah.

Purwa / Timur
Urip : 5.

Dewa : Iswara.
Sakti : Uma Dewi.
Senjata : Bajra.
Warna : Putih.
Aksara : Sa (Sadyojata)
Bhuwana Alit : Pepusuh.
Tunggangannya : Gajah.
Bhuta : Jangkitan.
Tastra : A dan Na.
Sabda : Ngong ngong.
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut.
Dwiwara : Menga.
Pancawara : Umanis.
Sadwara : Aryang.
Saptawara : Redite.
Astawara : Indra.
Sangawara : Dangu.
Dasawara : Pandita.
Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjata Bajra, wahananya (kendaraan) gajah, shaktinya Dewi Uma, aksara sucinya "Sa", di Bali beliau dipuja di Pura Lempuyang.
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti.
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha.



Genya / Tenggara
Urip : 8.

Dewa : Mahesora / Maheswara.
Sakti : Laksmi Dewa.
Senjata : Dupa.
Warna : Dadu/Merah Muda.
Aksara : Na.
Bhuwana Alit ; Peparu.
Tunggangannya : Macan.
Bhuta : Dadu.
Tastra : Ca dan Ra.
Sabda : Bang bang.
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung.
Caturwara : Mandala.
Sadwara : Paniron.
Saptawara : Wraspati.
Astawara : Guru.
Sangawara : Jangu.
Dasawara : Raja.
Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya (kendaraan) macan, shaktinya Dewi Lakshmi, aksara sucinya "Na", di Bali beliau dipuja di Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda.
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah.



Daksina / Selatan
Urip : 9.

Dewa : Brahma.
Sakti: Saraswati Dewi.
Senjata : Gada / Danda.
Warna : Merah.
Aksara : Ba (Bamadewa).
Bhuwana Alit : Hati.
Tunggangannya : Angsa.
Bhuta : Langkir.
Tastra : Ka dan Da.
Sabda : Ang ang.
Wuku : Wariga, Pujut, Menail.
Triwara : Pasah.
Pancawara : Paing.
Sadwara : Was.
Saptawara : Saniscara.
Astawara : Yama.
Sangawara : Gigis.
Dasawara : Desa.
Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya (kendaraan) angsa, shaktinya Dewi Saraswati, aksara sucinya "Ba", di Bali beliau dipuja di Pura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem.
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu.
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha.



Noritya / Barat Daya
Urip : 3.

Dewa : Rudra.
Sakti : Santani Dewi.
Senjata : Moksala.
Warna : Jingga.
Aksara : Ma.
Bhuwana Alit : Usus.
Tunggangannya : Kebo.
Bhuta : Jingga.
Tastra : Ta Dan Sa.
Sabda : Ngi ngi.
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat.
Caturwara : Laba.
Sadwara : Maulu.
Saptawara : Anggara.
Astawara : Ludra.
Sangawara : Nohan.
Dasawara : Manusa.
Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali beliau dipuja di Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung.
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus.
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha.





Pascima / Barat
Urip : 7.

Dewa : Mahadewa.
Sakti : Saci Dewi.
Senjata : Nagapasa.
Warna : Kuning.
Aksara : Ta (Tat Purusa).
Bhuwana Alit : Ungsilan.
Tunggangannya : Naga.
Bhuta : Lembu Kanya.
Tastra : Wa dan La.
Sabda : Ring ring.
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala.
Triwara : Kajeng.
Pancawara : Pon.
Sadwara : Tungleh.
Saptawara : Buda.
Astawara : Brahma.
Sangawara : Ogan.
Dasawara : Pati.
Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", di Bali beliau dipuja di Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan.
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini.
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.



Wayabya / Barat Laut
Urip : 1.

Dewa : Sangkara.
Sakti : Rodri Dewi.
Senjata : Angkus /Duaja.
Warna : Wilis / Hijau.
Aksara : Si.
Bhuwana Alit : Limpa.
Tunggangannya : Singa.
Bhuta : Gadang/Hijau.
Tastra : Ma dan Ga.
Sabda : Eng eng.
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu.
Ekawara : Luang.
Caturwara : Jaya.
Astawara : Kala.
Sangawara : Erangan.
Dasawara : Raksasa.
Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus/Duaja, wahananya (kendaraan) singa, shaktinya Dewi Rodri, aksara sucinya "Si", di Bali beliau dipuja di Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung.
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning.
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha.



Uttara / Utara
Urip : 4.

Dewa : Wisnu.
Sakti : Sri Dewi.
Senjata : Cakra.
Warna : Ireng / Hitam.
Aksara : A (Aghora).
Bhuwana Alit : Ampru.
Tunggangannya : Garuda.
Bhuta : Taruna.
Tastra : Ba dan Nga.
Sabda : Ung.
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang.
Dwiwara : Pepet.
Triwara : Beteng.
Pancawara : Wage.
Saptawara : Soma.
Astawara : Uma.
Sangawara : Urungan.
Dasawara : Duka.
Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjata Chakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda, shaktinya Dewi Sri, aksara sucinya "A", di Bali beliau dipuja di Pura Ulundanu terletak di Kabupaten Bangli.
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra.
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.
BACA JUGA
Muput Piodalan Alit di Merajan / Sanggah
Kamus Hindu Bali
Misteri Kutukan Ratu Gede Mecaling di Batuan


Madya / Tengah
Urip : 8.

Dewa : Siwa.
Sakti : Uma Dewi (Parwati).
Senjata : Padma.
Warna : Panca Warna brumbun.
Aksara : I (Isana) dan Ya.
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati.
Tunggangannya : Lembu.
Bhuta : Tiga Sakti.
Tastra : Ya dan Nya.
Sabda : Ong.
Saptawara : Kliwon.
Sangawara : Dadi.
Dewa Siwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjata Padma, wahananya (kendaraan) Lembu Nandini,senjata Padma shaktinya Dewi Durga (Parwati), aksara sucinya "I" dan "Ya", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem.
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta.
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha.


Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang diambil dari 2 sumber yaitu :


Geguritan Gunatama
Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :


Bunga petak maring purwa, kembang jingga gnewan sami, sekar abang ring daksina, ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia, Bunga ireng ring utara, ersania birune sami, mancawarnane ring madia, punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar, to uningin, patute anggon padapa.


Geguritan tersebut berarti :
“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “


Kidung Aji Kembang
Yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka ) :



Ring purwa tunjunge putih,
Hyang Iswara Dewatannya.
Ring papusuh prehania,
alinggih sira kalihan,
panteste kembange petak.
Ri tembe lamun numadi suka sugih tur rahayu dana punya stiti bakti

Ring geneyan tunjunge dadu,
Mahesora Dewatannya
Ring peparu prenahira.
Alinggih sira kalihan,
Pantesta kembange dadu,
Ri tembe lamun dumadi widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana

Ring daksina tunjunge merah,
Sang Hyang Brahma Dewatannya
Ring hati prenahira.
Alinggih sira kalihan Pantesta kemabang merah.
Ring tembe lamun dumadi Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji

Ring Nriti tunjunge jingga.
Sang Hyang Rudra Dewatannya
Ring usus prenahira,
Alinggih sira kalihan.
Pantes te kembange jingga,
Ring tembe lamun numadi, Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi

Ring Pascima tunjunge jenar,
Mahadewa Dewatannya
Ring ungsilan prenahira,
Alinggih sire kalihan,
Pantesta kemabnge jenar,
Ring tembe lamun dumadi, Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji

Ring wayabya tunjunge wilis,
Hyang Sangkara Dewatannya
Ring lima pranahira,
alinggih sira kalihan.
Pantesta kembang wilis.
Ring tembe lamun dumadi, Teleb tapa brata, gorawa satya ring bhudi

Ring utara tunjunge ireng.
Sang Hyang Wisnu Dewatannya
Ring ampu prenahira,
Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange ireng,
Ring tembe lamun numadi, Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati

Ring airsanya tunjunge biru .
Sang Hyang Sambu Dewatannya
Ring ineban prenahira,
Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange biru ,
Ring tembe lamun numadi, Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga

Tengah tunjunge mancawarna,
Sang Hyang Ciwa Dewatannya
Tumpukung hati prenahira,
Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange mancawarna ,
Ring tembe lamun numadi, Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga, tambahan yang diberikan adalah adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut :

Penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
Penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
Penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
Penggunaan tunjung warna biru akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan)
Penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sabar serta menjalankan Dharma, susila,
Penggunaan tunjung warna hijau akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan )
Penggunaan tunjung warna kuning akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur
Penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan dan senantiasa menimbulkan kedamaian
Penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang
Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay, dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.






Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga
Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :


1. Warna Hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal.


2. Warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan.

3. Warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, kekeuatan angin.

- JUAL BANTEN MURAH hub.0882-9209-6763 atau KLIK DISINI

4. Warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process.


5. Warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet
Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan, banjir, kesedihan.


7. Warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin.


8. Warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.


9. Warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power.


Demikian sekilas tentang dewata nawa sanga, mohon masukan dan kritikan atas tulisan diatas guna menyempurnakan tulisan ini. dan secara tidak langsung ini merupakan materi wajib di bali, sehingga Orang Bali WAJIB ketahui hal ini. terima kasih.

Sumber Artikel : Cakepane.blogspot.com
Sumber Foto : Pengastawa Istha Dewata Lan Samudaya