Rabu, 09 Agustus 2023

Banten Pengambean

 Pengambean berasal dari akar kata “Ngambe” berarti memanggil atau memohon. Banten Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para leluhur guna dapat menikmati hidup dan kehidupan senantiasa berdasarkan Dharma di bawah lindungan dan kendali Sang Hyang Widhi dan para Leluhur. Sehingga memunculkan makna untuk memohon tuntunan dan bimbingan hidup agar diarahkan dan diberikan penyinaran demi kehidupan yang lebih berkualitas.

3. Banten Dapetan
Banten dapetan disimbolkan sebagai wujud permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar dikaruniai atau dikembalikan kekuatan Tri Pramana termasuk kekuatan Tri Bhuwananya. Selain itu, Banten ini mengandung makna seseorang hendaknya siap menghadapi kenyataan hidup dalam suka dan duka. Harapan setiap orang tentunya berlimpahnya kesejahteraan dan kebahagiaan, panjang umur dan sehat walafiat. Banten ini juga sebagai ungkapan berterima kasih, mensyukuri karunia Tuhan Yang maha Esa karena telah diberikan kesempatan menjelma sebagai manusia.
4. Banten Guru
(Penjelasan belum saya temukan)
5. Banten Penyeneng
Penyeneng berasal dari asal kata “nyeneng” (bahasa bali) yang artinya hidup, mendapat awalan pe yang mengandung kata kerja menjadi penyeneng yang berarti dapat dijadikan hidup. Jadi penyeneng memiliki makna permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi, agar dianugerahi kehidupan baik untuk bhuwana agung dan bhuwana alit dalam keseimbangan/keselarasannya. Banten penyeneng ini berfungsi untuk mendudukan atau menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Ida bhatara di tempat yang telah disediakan.
Selain itu Banten Penyeneng sebagai lambang konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis dan produktif sebagaimana disebutkan penyeneng dalam banten sebagai penguatan konsep hidup, dijelaskan bahwa hidup yang seimbang mengandung suatu arti dalam visualisasi dari konsep hidup yang tiga ini diwujudkan dengan bentuk sampian yang beruang tiga.
6. Banten Pengiring
Banten pengiring adalah sesajen yang alasnya adalah sebuah taledan/tamas, kemudian secara berturut-turut diisi pisang, buah-buahan, tebi, kue, dua buah tumpeng, sampian tangga dan canang genten.
7. Banten Gebogan
Gebogan merupakan simbol persembahan dan rasa syukur pada Tuhan/Hyang Widhi. Gebogan atau juga disebut Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian buah buahan dan bunga. Umumnya gebogan dibawa ke pura untuk rangkaian upacara panca yadnya. Arti kata gebogan itu sendiri dalam bahasa Bali sebenarnya berarti ''jumlah''. Maksudnya bahwa gebogan dibuat dari berbagai jumlah dan jenis buah yang merupakan hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sanghyang Widhi.
8. Banten Sesayut
Menurut Wijayananda, dalam bukunya Tetandingan Lan Sorohan Banten (2003: ðŸ˜Ž menjelaskan bahwa banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut” dapat diartikan mempersilakan atau mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan menurut Dunia dalam Kata Pengantar bukunya Nama-Nama Sesayut (2008: vi) menjelaskan bahwa sesayut berasal dari kata “sayut” yang berarti tahan, cegah (Zoetmulder, 1995; 1063). Untuk menahan, mencegah orang agar terhindar dari mala, gangguan yang merusak, kemalangan, atau penyakit maka dibuatkanlah sesaji atau sejajen yang disebut sesayut (Kamus Bali-Indonesia, 1978; 506).
9. Banten Rayunan
Rayunan juga sering disebut sebagai Ajuman/Sodan/Ajengan, yang mana dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain. Apabila dimakanai, rayunan ini memiliki makna sebagai persembahan makanan kepada Ida Sanghyang Widhi/Dewa/Bhatara/maupun leluhur. Bila ditujukan kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, disebut “perangkat atau perayun” yaitu jajan serta buah-buahannya di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper/ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain. (http://imadeyudhaasmara.wordpress.com/.../makna-canang...)
10. Banten Teterag
Banten Teterag merupakan banten yang digunakan dalam upakara Yadnya dan difungsikan sebagai bentuk penyucian buana agung dan buana alit.
11. Jerimpen
Jerimpen berasal dari dua suku kata yaitu: jeri dan empen. Jeri berasal dari kata Jari dan empen dari kata Empu. Dari kata jari menjadi asta (Asta Aiswarya) yang diartikan delapan penjuru dunia, sedangkan empu berarti Sang Putus (Maha Suci), diilustrasikan sebagai Sang Hyang Widhi, karena Sang Hyang Widhilah yang mengatur dan memutuskan segala yang ada di alam semesta.Dengan demikian banten jerimpen adalah merupakan simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta manifestasiNya (Asta Aiswarya) agar Beliau memberikan keputusan berupa anugrah baik secara lahiriah maupun bathiniah. Oleh karena itu jerimpen selalu dibuat dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai sampyan windha (jit kokokan), windha berasal dari kata windhu yang artinya suniya, dan suniya diartikan Sang Hyang Widhi. Dua buah jerimpen mengandung maksud dan makna sebagai simbol lahiriah dan bathiniah.


Banten Ayaban Tumpeng 11 antara lain:

 1. Banten Peras: 2 tumpeng

2. Banten Pengambian: 2 tumpeng
3. Banten Dapetan: 1 tumpeng
4. Banten Guru: 1 tumpeng
5. Banten Penyeneng: 3 tumpeng
6. Banten Pengiring (2 soroh): 1 tumpeng
7. Banten Gebogan.
8. Banten Sesayut.
9. Banten Rayunan.
10. Banten Teterag.
11. Jerimpen
Makna
1. Banten Peras
Kata “Peras” berarti “Sah” atau “Resmi”, dengan demikian penggunaan banten “Peras” bertujuan untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin.
2. Banten Pengambean
Pengambean berasal dari akar kata “Ngambe” berarti memanggil atau memohon. Banten Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Sehingga memunculkan makna untuk memohon tuntunan dan bimbingan hidup agar diarahkan dan diberikan penyinaran demi kehidupan yang lebih berkualitas.
3. Banten Dapetan
Banten dapetan disimbolkan sebagai wujud permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar dikaruniai atau dikembalikan kekuatan Tri Pramana termasuk kekuatan Tri Bhuwananya.
4. Banten Guru
Banten Guru ini sebagai lambang untuk memohon persaksian dari Tuhan sebagai Siwa Guru.
5. Banten Penyeneng
Penyeneng memiliki makna permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi, agar dianugerahi kehidupan baik untuk bhuwana agung dan bhuwana alit dalam keseimbangan/keselarasannya. Banten penyeneng ini berfungsi untuk mendudukan atau menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wtempat yang telah disediakan.
Selain itu Banten Penyeneng sebagai lambang konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis dan produktif
6. Banten Pengiring
Banten pengiring adalah sesajen yang alasnya adalah sebuah taledan/tamas, kemudian secara berturut-turut diisi pisang, buah-buahan, tebi, kue, dua buah tumpeng, sampian tangga dan canang genten.
7. Banten Gebogan
Gebogan merupakan simbol persembahan dan rasa syukur pada Tuhan/Hyang Widhi. Gebogan atau juga disebut Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian buah buahan dan bunga.
8. Banten Sesayut
Banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut” dapat diartikan mempersilakan atau mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
9. Banten Rayunan
Rayunan juga sering disebut sebagai Ajuman/Sodan/Ajengan, yang mana dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain.
10. Banten Teterag
Banten Teterag merupakan banten yang digunakan dalam upakara Yadnya dan difungsikan sebagai bentuk penyucian buana agung dan buana alit.
11. Jerimpen
Banten jerimpen adalah merupakan simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta manifestasiNya (Asta Aiswarya) jerimpen selalu dibuat dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai sampyan windha (jit kokokan), windha berasal dari kata windhu yang artinya suniya, dan suniya diartikan Sang Hyang Widhi. Dua buah jerimpen mengandung maksud dan makna sebagai simbol lahiriah dan bathiniah.

Selasa, 08 Agustus 2023

JENIS PAMANGKU

 


Menurut Lontar Raja Purana Gama. Ekajati yang tergolong pamangku dibedakan jenisnya, sesuai dengan tempat dan kedudukannya, dimana beliau ini melaksanakan tugasnya, yaitu:
1. Pamangku Kahyangan (Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Kahyangan adalah Pamangku yang bertugas pada Kahyangan yang meliputi Kahyangan Tiga, Kahyangan Jagat maupun Sad Kahyangan. Masing-¬masing pura ini memiliki seorang atau lebih Pamangku pemucuk dan mengemban tugas dan bertanggung jawab terhadap segala kegiatan pada pura yang, diemongnya. Selain itu memahami tentang keberadaan pura serta upacara dan upakara yang semestinya dilaksanakan. Pemangku tersebut sering juga disebut Mangku Gde/Mangku Pemucuk. Seperti Pemangku Desa, Dalem, Puseh serta sesungsungan desa lainnya, Kahyangan Jagat serta. Dangkahyangan.
2. Pamangku Pamongomong (Pembantu Pemangku Kusuma Dewa) Pamangku Pamongmomg juga disebut dengan sebutan Jro Bayan, atau dengan sebutan Mangku alit, yang memiliki tugas sebagai pebantu dari Pemangku Gde di suatu pura, yang sering juga disebut Pamangku alit, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara, dan hal-hal lainnya sesuai dengan perintah Pemangku Gde.
3. Pamangku Jan Banggul Pamangku Jan Banggul juga disebut dengan sebutan Jro Bahu, disebut juga Pamangku alit, yang bertugas sebagai pembantu Pemangku Gde, dalarn menghaturkan atau ngunggahang bebanten, menurunkan arca pratima, memasang bhusana pada pelingih, nyiratan wangsuh pada dan memberikan bija kepada umat yang sembahyang, serta hal-hal lainnya sesuai dengan perintah / waranuggraha Pemangku Gde pada pura tersebut.
4. Pamangku Cungkub Pamangku Cungkub yaitu: Pamangku yang bertugas di Mrajan Gde yang memiliki jumlah Palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.
5. Pamangku Nilarta Pamangku Nilarta adalah Pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai pura Kawitan atau pura Kawitan dari keluarga tertentu.
6. Pamangku Pandita Pamangku Pandita memiliki tugas muput yadnva seperti Pandita. Adanya Pemangku jenis ini didasarkan atas adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yadnya diselesaikan oleh pemangku tersebut, dengan mohon tirtha pamuput dengan jalan nyelumbung.
7. Pamangku Bhujangga Pamangku Bhujangga adalah pamangku yang bertugas pada pura yang berstatus sebagai paibon.
8. Pamangku Balian Pamangku ini hanya bertugas melaksanakan swadharma Balian, dapat nganteb upacara atau upakara hanya yang berhubungan pengobatan terhadap pasiennya.
9. Pamangku Dalang Pamangku yang melaksanakan swadharma sebagai Dalang, dapat nganteb upacara atau upakara yang hanya berhubungan dengan swadharma Pedalangannya saja, seperti mabayuh pawetonan atau Nyapuh Leger.
10. Pamangku Tapakan / lancuban Pamangku ini hanya bertugas apabila pada suatu pura melaksanakan kegiatan nyanjan atau nedunan Bhatara nunas bawos, untuk kepentingan pura tersebut untuk, memohon petunjuk, dari dunia niskala.
11. Pamangku Tukang Pamangku ini juga disebut Pamangku Undagi, pamangku yang paham akan ajaran Wiswakarma serta segala pekerjaan tukang, seperti Undagi, Sangging, Pande dan sejenisnya, dapat nganteb upacara atau upakara hanya sebatas yang berhubungan dengan tugas beliau sebagai tukang.
12. Pamangku Sang Kulputih Pamangku Sang Kulputih swadharmanya sebagai pemangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dalam pemujaannya.
13. Pamangku Sang Kulpine Pamangku yang memakai gagelaran Sang Kulputih dan Kusuma Dewa dalam swadharmanya sebagai pembantu Pamangku Sang Kulputih.
14. Pamangku Kortenu, Pamangku Kortenu adalah Pemangku yang bertugas di Pura Prajapati, selain nganteb di Pura yang di emongnya, juga dapat nganteb upacara yang berhubungan dengan Pitra Yadnya, seperti Ngulapin Pitra pada saat akan melaksanakan upacara Atiwa-tiwa dan lain sebagainya.





Meditasi Terdalam

 Catatan: Postingan ini adalah uraian meditasi oleh Osho sebelum menjelaskan Prajna Paramita (Sutra Hati) yang diajarkan Buddha kepada Sariputra. Karena panjang, kami akan membaginya menjadi beberapa bagian.

---
Apa itu meditasi? Karena seluruh Sutra Hati ini adalah tentang inti meditasi terdalam, mari kita masuk ke dalamnya.
Hal pertama: Meditasi bukanlah konsentrasi. Dalam konsentrasi ada diri yang berkonsentrasi dan ada objek konsentrasi. Ada dualitas. Dalam meditasi tidak ada dalam dan tidak ada luar.
Meditasi bukan konsentrasi. Tidak ada pembagian antara luar dan dalam. Yang di dalam terus mengalir ke luar, yang di luar terus mengalir ke dalam. Batas demarkasi tidak ada lagi. Yang di dalam keluar, yang di luar masuk.
Meditasi adalah kesadaran nondual.
Konsentrasi adalah kesadaran dual: itulah sebabnya konsentrasi menciptakan kelelahan. Ketika engkau berkonsentrasi, engkau merasa lelah. Engkau tidak dapat berkonsentrasi selama dua puluh empat jam, engkau harus beristirahat. Konsentrasi tidak pernah bisa menjadi sifat alamiahmu.
Meditasi tidak membosankan dan tidak melelahkanmu. Meditasi bisa terjadi selama dua puluh empat jam, hari demi hari, tahun demi tahun. Meditasi bisa menjadi keabadian. Meditasi adalah relaksasi itu sendiri.
Konsentrasi adalah tindakan yang dikehendaki. Meditasi adalah keadaan tanpa kehendak, keadaan tidak bertindak. Meditasi adalah relaksasi. Seseorang hanya jatuh ke dalam keberadaannya sendiri. Keberadaan itu sama dengan keberadaan semua makhluk.
Dalam konsentrasi ada rencana, proyeksi dan sebuah ide. Dalam konsentrasi, pikiran berfungsi dan menarik kesimpulan: engkau melakukan sesuatu. Konsentrasi keluar dari masa lalu.
Dalam meditasi tidak ada kesimpulan di baliknya. Engkau tidak melakukan apa pun secara khusus, engkau sekedar hadir. Meditasi tidak terkontaminasi oleh masa lalu. Tidak ada masa depan dalam meditasi. Meditasi bersih dari semua masa depan.
Inilah yang disebut Lao Tzu Wei-wu-wei, aksi tanpa aksi. Inilah yang dikatakan Zen Masters: duduk diam tidak melakukan apa -apa, musim semi datang dan rumput tumbuh dengan sendirinya. Ingat, 'dengan sendirinya' - tidak ada yang dilakukan.
Engkau tidak menumbuhkan rumput. Musim semi datang dan rumput tumbuh dengan sendirinya. Meditasi adalah keadaan itu: keadaan ketika engkau membiarkan hidup bergerak dengan caranya sendiri, ketika engkau tidak ingin mengarahkannya, ketika engkau tidak ingin memberikan kendali apa pun untuk hidup, ketika engkau tidak memanipulasi, ketika engkau tidak menegakkan disiplin apa pun di atasnya.
Keadaan spontan murni tanpa disiplin apapun, adalah meditasi.
Meditasi ada di masa sekarang, murni saat ini. Meditasi adalah sesuatu yang terjadi begitu saja. Engkau tidak dapat bermeditasi, tetapi engkau bisa dalam keadaan meditasi. Engkau tidak bisa dalam keadaan konsentrasi, tetapi engkau dapat berkonsentrasi.
Konsentrasi adalah manusia, meditasi adalah ilahi.
Konsentrasi memiliki pusat di dalam dirimu. Dari pusat itu konsentrasi datang. Konsentrasi memiliki diri dalam dirimu. Manusia yang sering berkonsentrasi mengumpulkan diri yang sangat kuat. Dia menjadi lebih dan lebih kuat, dia mulai menjadi kemauan yang terintegrasi. Dia akan terlihat lebih terkumpul, lebih menjadi satu bagian.
Manusia meditasi tidak menjadi kuat: dia menjadi hening, menjadi damai.
Kekuatan diciptakan karena konflik. Semua kekuatan berasal dari gesekan. Ini seperti listrik yang keluar dari gesekan. Engkau dapat membuat listrik dari air: Ketika air sungai jatuh dari lereng gunung ada gesekan antara air sungai dan batu, dan gesekan menciptakan energi.
Itu sebabnya orang yang mencari kekuatan selalu bertarung. Pertarungan menciptakan energi. Energi dan kekuatan selalu diciptakan melalui gesekan. Dunia berperang berulang kali karena dunia terlalu didominasi oleh gagasan kekuatan. Engkau tidak bisa menjadi kuat tanpa bertarung.
Meditasi membawa kedamaian. Damai memiliki kekuatannya sendiri, tetapi kekuatan kedamaian itu adalah fenomena yang sama sekali berbeda.
Kekuatan yang diciptakan dari gesekan adalah kekerasan, agresif, maskulin. Kekuatan meditasi - aku menggunakan kata kekuatan karena tidak ada kata lain - kekuatan yang keluar dari kedamaian, adalah feminin. Kekuatan itu ada berkahnya. Ini adalah kekuatan pasif, penerimaan, keterbukaan. Kekuatan meditasi tidak keluar dari gesekan sehingga tidak bisa kejam.
Buddha sangat kuat dalam kedamaiannya, dalam keheningannya. Buddha sekuat bunga mawar, bukan kuat seperti bom atom. Dia sekuat senyum seorang anak kecil. Sangat rapuh, sangat rentan; Dia tidak sekuat pedang. Dia kuat seperti nyala api kecil yang menyala terang di malam yang gelap. Ini adalah dimensi kekuatan yang sama sekali berbeda. Kekuatan inilah yang kita sebut kekuatan ilahi. Ini bukan kekuatan yang keluar dari gesekan.
Konsentrasi adalah gesekan: engkau bertarung dengan pikiranmu sendiri. Engkau mencoba memfokuskan pikiran dengan cara tertentu, menuju ide atau objek tertentu. Engkau memaksanya dan membawanya lagi ke tujuan itu. Konsentrasimu mencoba untuk lari lalu tersesat dan mulai memikirkan seribu satu hal. Engkau membawanya kembali secara paksa.
Engkau bertarung dengan diri sendiri. Tentu saja dalam pertarungan ini pun kekuatan diciptakan. Kekuatan itu sama berbahayanya dengan kekuatan lainnya. Kekuatan itu akan digunakan lagi untuk membahayakan seseorang, karena kekuatan yang keluar dari gesekan adalah kekerasan. Sesuatu yang keluar dari kekerasan akan menjadi kekerasan. Kekuatan itu akan menjadi destruktif.
Kekuatan yang keluar dari kedamaian, kekuatan dari non-gesekan, non-pertarungan, non-manipulasi, adalah kekuatan bunga mawar, kekuatan lampu kecil, kekuatan seorang anak yang tersenyum, kekuatan seorang wanita menangis, kekuatan dalam titik embun.
Kekuatan itu sangat besar tetapi tidak berat, tak terbatas tetapi tidak kejam.
Konsentrasi akan membuatmu menjadi orang yang penuh kehendak. Meditasi akan membuatmu menjadi kosong (tanpa diri).
OSHO
The Heart Sutra
----
What is meditation? - because this whole Heart Sutra is about the innermost core of meditation. Let us go into it.
The first thing: meditation is not concentration. In concentration there is a self concentrating and there is an object being concentrated upon. There is duality. In meditation there is nobody inside and nothing outside. It is not concentration. There is no division between the in and the out. The in goes on flowing into the out, the out goes on flowing into the in. The demarcation, the boundary, the border, no longer exists. The in is out, the out is in; it is a nondual consciousness.
Concentration is a dual consciousness: that's why concentration creates tiredness; that's why when you concentrate you feel exhausted. And you cannot concentrate for twenty-four hours, you will have to take holidays to rest. Concentration can never become your nature.
Meditation does not tire, meditation does not exhaust you. Meditation can become a twenty-four hour thing - day in, day out, year in, year out. It can become eternity. It is relaxation itself.
Concentration is an act, a willed act. Meditation is a state of no will, a state of inaction. It is relaxation. One has simply dropped into one's own being, and that being is the same as the being of all. In concentration there is a plan, a projection, an idea. In concentration the mind functions out of a conclusion: you are doing something. Concentration comes out of the past.
In meditation there is no conclusion behind it. You are not doing anything in particular, you are simply being. It has no past to it, it is uncontaminated by the past. It has no future to it, it is pure of all future. It is what Lao Tzu has called wei-wu-wei, action through inaction. This is what Zen masters have been saying: Sitting silently doing nothing, the spring comes and the grass grows by itself. Remember, 'by itself' - nothing is being done. You are not pulling the grass upwards; the spring comes and the grass grows by itself. That state - when you allow life to go on its own way, when you don't want to direct it, when you don't want to give any control to it, when you are not manipulating, when you are not enforcing any discipline on it - that state of pure undisciplined spontaneity, is what meditation is.
Meditation is in the present, pure present. Meditation is immediacy. You cannot meditate, but you can be in meditation; you cannot be in concentration, but you can concentrate.
Concentration is human, meditation is divine.
Concentration has a center in you; from that center it comes. Concentration has a self in you. In fact the man who concentrates very much starts gathering a very strong self. He starts becoming more and more powerful, he starts becoming more and more an integrated will. He will look more collected, more one piece.
The man of meditation does not become powerful: he becomes silent, he becomes peaceful. Power is created out of conflict; all power is out of friction. Out of friction comes electricity. You can create electricity out of water: when the river falls from a mountainside there is friction between the river and the rocks, and the friction creates energy. That's why people who are seeking power are always fighting. Fight creates energy. It is always through friction that energy is created, power is created. The world goes into war again and again because the world is too dominated by the idea of power. You cannot be powerful without fighting.
Meditation brings peace. Peace has its own power, but that is an altogether different phenomenon. The power that is created out of friction is violent, aggressive, male. The power - I am using the word because there is no other word - the power that comes out of peace, is feminine. It has a grace to it. It is passive power, it is receptivity, it is openness. It is not out of friction; that's why it is not violent.
Buddha is powerful, powerful in his peace, in his silence. He is as powerful as a roseflower, he's not powerful like an atom bomb. He's as powerful as the smile of a child...
very fragile, very vulnerable; but he's not as powerful as a sword. He is powerful, as a small earthen lamp, the small flame burning bright in the dark night. It is a totally different dimension of power. This power is what we call divine power. It is out of non-friction.
Concentration is a friction: you fight with your own mind. You try to focus the mind in a certain way, towards a certain idea, towards a certain object. You force it, you bring it back again and again. It tries to escape, it runs away, it goes astray, it starts thinking of a thousand and one things, and you bring it again and you force it. You go into a self-fight. Certainly power is created; that power is as harmful as any other power, that power is as dangerous as any other power. That power will again be used to harm somebody, because the power that comes out of friction is violence. Something out of violence is going to be violent, it is going to be destructive. The power that comes out of peace, non-friction, non-fight, non-manipulation, is the power of a roseflower, the power of a small lamp, the power of a child smiling, the power of a woman weeping, the power that is in tears and in the dewdrops.
It is immense but not heavy; it is infinite but not violent.
Concentration will make you a man of will. Meditation will make you an emptiness.

BUKU EMPU LUTUK TETANDINGAN BANTEN CARU

 


Buku ini membahas dengan lengkap bagaimana cara membuat banten caru dan bagaimana tetandingannya..
Banten caru biasanya di persembahkan kepada bhuta kala agar tidak mengganggu kehidupan kita, dan bisa memperbaiki kualitas hidupnya. semoga dengan buku ini, yadnya yang kita lakukan berjalan dengan lancar sesuai dengan petunjuk buku ini
Isi tetandingan caru ayam brumbun, manca sata (dasa caru), manca sanak, manca kelud, balik sumpah, tawur gentuh, masasapuh agung, manca wali krama, eka dasa ludra, rsi gana, rajah don naga sari rsi gana, rajah don bingin caru rsi gana. Aneka Pitra Yadnya: saji, papintonan, pawedusan. Manusa yadnya: gedong-gedongan, pawiwehan, hempas rare,
kebus udel, roras rahina, bulan pitung dina kambuhan, tigang sasih, ngempugin, pawetonan, ngeraja singa swala, matatah mapandes, mapodgala. Banten pesawahah: nandur padi, mabyukukung, palaba kamaranan. Akeh malih sane tiosan.
Om shanti, shanti, shanti om
Karya : Pan Supadma Wayan Pucuk
Ukuran : A4
Harga : 90 rb


KESADARAN MURNI

 Tulisan suci Veda kuno mengatakan, “Anda tidak berada di dunia ini, dunia lah yang berada di dalam diri Anda.”

Alam semesta ini hanyalah selubung ilusi – yang dikenal sebagai maya – dan segala sesuatu adalah kesadaran murni.
Ketika kita menembus tabir itu, kita akan menemukan kesadaran murni dalam segala hal dan memiliki akses ke potensi kreatif yang tidak terbatas.
Tubuh kita, pikiran kita, dan dunia fisik ini adalah proyeksi dari kesadaran kita.
Hanya kesadaran yang nyata, segala sesuatu yang lain hanyalah proyeksi dari kesadaran.

Panca Mahabhuta Sebagai Anasir Dasar Lahir, Hidup, Mati. selalu dalam bingkaianya








Kalau kita perhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita maka beraneka ragam benda, pemandangan yang indah dan mahluk hidup yang dapat kita lihat. Kesemuanya itu merupakan isi alam semesta atau Buana Agung yang dapat menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana yang selalu menggelitik hati kita yaitu "Dari manakah asal mula segala sesuatu yang ada di alam semesta ini atau lebih sederhana lagi dari mana asal mula alam semesta ini yang dikenal pula sebagai Buana Agung dalam Agama Hindu?".
Sejauh ini sains (ilmu pengetahuan modern) telah mempelajari segala sesuatu yang ada di alam raya ini (Bhuana Agung) dari berbagai aspek tapi belum dapat menjawab pertanyaan sederhana tersebut di atas. Telah dikemukaan berbagai teori tentang terbentuknya alam raya dan asal mahkluk hidup. Seperti Big Bong, Teori Generasio Spontania dan lain sebagainya, semuanya itu juga tidak dapat menjawab pertanyaan di atas.
Segala sesuatu yang ada dan yang akan ada di alam raya ini semuanya bersumber atau disebabkan oleh penyebab pertama atau sering disebut causa prima, itulah yang dipercaya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Sada Siwa Tattwa bahwa Sada Siwa merupakan kesadaran kedua setelah Paramasiwa, ia bersifat wyapara yang berstana dalam padmasana yang disebut cadhusakti, dengan saktinya ia menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Jadi causa prima itu adalah Sada Siwa.
Alam raya atau Bhuana Agung ini disusun dari anasir dasar Panca Mahabhuta, yaitu prethiwi, apah, teja, bayu dan akasa, yang menentukan keberadaan alam semesta beserta isinya.
Penciptaan Panca Mahabhuta
Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Cetana berkedudukan di atas, berwujud kesadaran tertinggi dan Acetana berkedudukan di bawah berwujud maya (lupa). Azas yang di atas dapat masuk menyusupi dan melingkupi azas yang di bawah. Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan (menciptakan) Citta-Guna.
Citta merupakan perwujudan dari Purusa dan Guna perwujudan dari Pradana, Guna sebagai sifat Citta dan tiga yaitu : satwan, rajas dan tamas. Akibat ketertarikan Citta pada Guna maka terciptalah Buddhi. Buddhi demikian banyaknya dalam rupa yang beraneka sifatnya seperti Catur Aiswarya, Astuti, Asthasiddhi, kebalikan Catur Aiswarya dan Panca Wretaya Citta yang begitu lekat dengan sifatnya maka terbentuklah Ahengkara. Ahengkara yang merupakan ego atau kekuatan bertemu bertemu dengan gunanya (Tri Guna) maka menjadi tiga yaitu Si Wekreta, Si Tejasa dan Si Bhutadi.
Si Bhutadi yaitu merupakan pertemuan buddhi dengan tamah dapat menciptakan Panca Tan Matra merupakan lima keadaan yang sangat halus yaitu:
1. Sabda tan matra
2. Sparsa tan matra
3. Rupa tan matra
4. Rasa tan matra
5. Ganda tan matra
Yang merupakan badan atma yang berwujud wasana. Dari Panca Tan Matra melahirkan Panca Mahabhuta yaitu:
1. Akasa lahir dari sabda tan matra melalui manah
2. Bayu lahir dari soarsa tan matra melalui akasa
3. Teja lahir dari rupa tan matra melalui bayu
4. Apah lahir dari rasa tan matra melalui teja
5. Perthhvi lahir dari ganda tan matra melalui apah
Panca Mahabhuta Sebagai Anasir Dasar Penyusun Alam Semesta (Buana Agung)
Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah, dan perthiwi merupakan lima anasir dasar yang dijadikan penyusun alam semesta ini, keberadaannya berstruktur dari yang paling atas yaitu akasa paling halus makin bawah yaitu bayu, teja, apah semakin kasar dan perthiwi yang paling di bawah paling kasar.
1. Akasa
Akasa paling diatas merupakan Panca Mahabhuta yang paling halus berupa ruang kosong yang hampa, sunya tidak berwujud dan tidak tampak. Akasa sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai ruang wahana atau tempat keberadaan segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini. Alam raya ini terbentuk dari satu ruang yang kosong yang hampa yang tak terbatas luasnya dimana semua isi alam semesta ini seperti planet-planet dan mataharinya, semua materi atau benda-benda yang ada dan semua mahluk hidup berada di dalamnnya. Akasa merupakan ruang kosong pembentuk alam semesta.
2. Bayu
Bayu inipun masih halus, karena rupa,tapi ada tanda-tanda yang dapat menerangkannya misalnya, benda bergerak maka gerakan benda itu sendiri adalah tanda adanya bayu dalam benda itu. Dibandingkan dengan akasa bayu lebih kasar karena letaknya lebih di bawah, Bayu sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai tenaga penggerak (energi) semua peroses yang terjadi dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti benda-benda yang ada di sekitar kita sampai benda planet yang ada diluar angkasa semua bergerak tidak ada yang diam. Gerakannya bermacam-macam ada gerak rotasi, gerak translasi, gerak vibrasi dan sebagainya. Semua gerakan itu disebabkan oleh bayu sebagai tenga penggeraknya.
3. Teja
Teja berada di bawah bayu maka lebih kasar daripada bayu. Teja keberadaannya berupa sinar atau cahaya yang tiak berwujud sehingga tidak dapat disentuh jadi masih halus tapi sudah tampak atau dapat dilihat sedangkan bayu keberadaanna tidak dapat dilihat. Teja sebagai anasir dasar membentuk alam semesta berperan sebagai pembentuk sinar yang menyinari segala benda atau isi alam materi yang ada di alam ini dapat dilihat (tampak) dengan mata. Segala sesuatu yang dapat bersinar di alam ini dominan sebagai pembentuk alam ini, misalnva matahari yang bersinar terang merupakan benda (isi) alam semesta yang dapat mengeluarkan teja yang amat besar dari dalam dirinya demikian juga isi alam lainnya yang besinar.
4. Apah/Jala
Apah sudah kasar karena sudah dapat berwujud walau wujudnya dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Apah sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai pembentuk cairan yang menyusun alam semesta beseta isinya. Segala yang cair seperti air, minyak, alkohol, cairan pada tubuh dan lain-lain yang berada di alam ini merupakan peran apah sebagai pembentuk alam semesta.
5. Perthiwi
Perthhvi paling bawah sehingga paling kasar, wujudnya sudah tetap (padat). Perthhvi sebagai anasir dasar paling kasar penyusun alam semesta keberadaannya berperan untuk menentukan wujud benda-benda atau isi alam dan wujudnya padat yang tetap